Posted by: Shinichi | J July , 2008

Bioremidiation

  1. Bioremidiation

  1. What is Bioremidiation?

Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penggunaan organisme hidup, terutama mikroorganisme, untuk mendegradasi bahan pencemar (toksikan) lingkungan yang merugikan ketingkat atau bentuk yang lebih aman dalam hal memperbaiki / mengembalikan kondisi suatu lingkungan yang telah mengalami penurunan kualitas menjadi seperti semula sesuai dengan fungsinya masing-masing.

  1. What is the “Bio”in Bioremidiation?

Bio” yang dimaksudkan dalam Bioremidiasi adalah organisme hidup, terutama mikroorganisme yang digunakan dalam pemanfaatan pemecahan/ degradasi bahan pencemar lingkungan menjadi bentuk yang lebih sederhana dan aman bagi lingkungan tersebut.

  1. Why Bioremidiation, aren’t there other ways to cleanup these sites?

Banyak cara yang dapat digunakan dalam proses pengembalian fungsi lingkungan yang telah berubah yang diakibatkan oleh toksikan atau bahan pencemar lingkungan. Namun, teknik bioremidiasi ini dianggap lebih mudah, cepat, murah dan effisien, Karena teknik bioremidiasi ini hanya memanfaatkan organisme dalam mendegradasi toksikan. Hanya dengan melakukan kulturisasi bakteri/ mikroorganisme, maka kemudian kita dapat memanfaatkan potensi dari mikroorganisme tersebut untuk mendegradasi bahan pencemar yang terdapat pada lingkungan, sehingga lama kelamaan dengan sendirinya kualitas dan fungsi lingkungan akan kembali pada kondisi normal.

  1. How does it work?

Proses bioremediasi ini dapat dilakukan secara “bioaugmentasi” yaitu penambahan atau introduksi satu jenis atau lebih mikroorganisme baik yang alami maupun yang sudah mengalami perbaikan sifat (improved/genetically engineered strains), dan secara “biostimulasi” yaitu suatu proses yang dilakukan melalui penambahan zat gizi tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisme atau menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa (misalnya pemberian aerasi) agar mikroorganisme tumbuh dan beraktivitas lebih baik

  1. Is it safe?

Proses Bioremidiasi dapat dikatakan aman bagi lingkungan maupun bagi manusia, karena proses ini tidak menyebabkan efek maupun dampak yang berbahaya bagi lingkungan asalkan dalam penggunaan dan pemanfaatan mikroorganisme ini sesuai dengan kadar, kemampuan, dan jangka waktunya dalam mendegradasi toksikan.

  1. Are these processes being used today?

Sekarang ini penggunaan beragam spesies mikroorganisme untuk bioremediasi telah semakin berkembang luas dan digunakan dalam mengatasi beragam pencemar baik organik maupun anorganik, sebagai contoh telah diterapkan dalam bentuk interaksi tumbuhan-mikroorganisme (bioremediasi fito-mikrobial) misalnya penggunaan Pseudomonas putida yang berasosiasi dengan gandum (Triticum aestivum) untuk mengatasi 2,4-D dan Mesorhizobium huakuii dengan Astragalus sinicus untuk mengatasi cemaran Cd . Serta usaha menjaga kualitas air oleh pembudidaya dapat dilakukan dengan tetap mengacu bioremediasi, seperti mengkombinasikan sistim penyaringan pasir lambat dengan biofilter. Biofilter pada skala yang besar dapat diwujudkan dalam bentuk lahan basah (wetland) alami, semi alami, dan buatan (constructed wetland).

  1. What does the future have in store?

Dimasa depan, persyaratan kriteria kemanan dan kenyamanan lingkungan dari toksikan haruslah jelas dan tegas serta sudah semestinya merujuk pula pada kepentingan konsumen (manusia), termasuk di dalamnya adalah aplikasi yang dianjurkan untuk bioremidiasi (jangka waktu penggunaan dan kadar mikroorganisme). Dengan demikian, kriteria baku mutu lingkungan akan selalu aman bagi manusia dan lingkungan sekitar.

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Tugas PAL

DESAIN PENGELOLAAN AIR LIMBAH PADA KAWASAN INDUSTRI PERTAMBAKAN

Limbah di areal pertambakan dapat berasal dari pabrik, sawah, pemukiman penduduk dan dari kegiatan budidaya itu sendiri seperti kotoran udang dan sisa pakan.

Beberapa cara penanganan limbah tersebut antara lain adalah melalui :

  1. Penyaringan air saat dimasukkan ke tambak.

Air yang akan dimasukkan kedalam petakan tambak haruslah disaring dulu untuk kemudaian bebas dari limbah pabrik, sawah, pemukiman, maupun kotoran-kotoran lainnya, sehingga dengan demikian air yang digunakan untuk kegiatan budidaya tambak bebas dari limbah luar.

  1. Penggunaan petak perlakuan (tandon air).

Adapun fungsi tandon adalah :

  • Sebagai tempat untuk mempersiapkan air yang berkualitas baik sebelum dimasukkan ke dalam petakan pemeliharaan.

  • Sebagai tempat mengendapkan

  1. Desain tambak dengan sistem resirkulasi tertutup

Yang dimaksud dengan sistem resirkulasi tertutup adalah suatu cara pengelolaan tambak dengan cara mengisolasi unit tambak yang digunakan untuk kegiatan budidaya dari perairan luar. Selama proses budidaya tidak dilakukan pemasukan air dari luar unit tambak yang dikelola. Pengisian air dari luar tambak dilakukan satu kali saja, kecuali bila terjadi penurunan kuantitas air yang disebabkan oleh kebocoran ataupun penguapan. Tujuan penerapan sistem ini adalah mencegah terjadinya kontaminasi limbah ke dalam petakan pemeliharaan yang berasal dari luar, misalnya ini didasarkan atas kenyataan di lapangan bahwa penurunan kualitas lingkungan pesisir akibat dari pembuangan berbagai limbah.

Prinsip kerja dari sistem resirkulasi tertutup ini adalah bahwa limbah yang berasal dari petakan pemeliharaan dialirkan ke petakan pengendapan, setelah partikel-partikel mengendap kemudian diberi perlakuan (treatmen) agar kualitas air yang dihasilkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Di dalam petakan treatment ini air dikapur, diberi pupuk dan perlakuan lainnya agar kualitas sesuai dengan persyaratan bagi budidaya. Air hasil treatment tersebut kemudian dialirkan lagi ke petak pemeliharaan udang.

Layout Desain Pengelolaan Air Limbah Kawasan Industri Pertambakan

Dengan Sistem Resirkulasi Tertutup

Keterangan gambar :

Tandon : Petak Pengendapan

Bioscreening : Omnivora, Karnivora

Biofilter : Rumput laut, Kerang-kerangan

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Tugas Bioremidiasi

MIKROORGANISME DAN AKUAKULTUR

  1. Identifikasi Masalah

Pada awalnya, wabah pes di Eropa pada tahun 1347-1350 yang dikenal sebagai black-plaque dan lepra pernah dianggap sebagai kerja sihir atau kutukan Tuhan, tetapi mikrobiologi mengungkapkan bahwa keduanya merupakan akibat infeksi mikroorganisme. Hingga sekarang, mikroorganisme menjadi salah satu sumber kekhawatiran dan masalah seperti dalam kasus HIV, SARS (severe acute respiratory syndrome), flu burung, anthrax, dan bio-terorism.

Saat ini mikrobiologi sudah berkembang pesat, penelitian-penelitian sudah mencapai tataran molekuler yang rumit, meskipun penelitian dasar dan atau “konvensional” masih tetap diperlukan. Hal ini tak terlepas dari kenyataan bahwa hingga saat ini kurang dari 5% dari keseluruhan mikroorganisme yang sudah diketahui. Banyak spesies mikroorganisme tidak atau belum mampu dikultivasi dilaboratorium tetapi tetap mampu dikenali karakternya melalui teknologi penyisipan fragmen DNA ke plasmid bakteri yang mudah dikultivasi.

Bacillus merupakan contoh bakteri dengan keragaman jenis dan potensi yang cukup tinggi. Sebagai gambaran, dari 10 area terlindungi di Jawa seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Gede-Pangrango, Merubetiri dan Baluran, dengan mengambil secara acak cuplikan tanah dan air dari area tersebut, Irianto et al. (1998) mendapatkan ratusan isolat. Masing-masing isolat dapat dikembangkan untuk penelitian beragam aspek seperti enzim, produksi senyawa antibiotik, kemampuan mengikat logam berat, dan potensinya untuk bioremediasi.

Bacillus telah digunakan pula untuk memproduksi tanaman transgenik melalui penyisipan gen yang mengekspresikan produksi ß-endotoxins (Cry proteins) dari Bacillus thuringiensis ke tanaman (Bt crops) sehingga tahan hama larva Lepidoptera dan Coleoptera. Pada tahun 2004 tanaman kapas dan jagung transgenik telah dikembangkan pada 22,4 juta hektar area di seluruh dunia.

  1. Pendekatan Pemecahan Masalah

Akuakultur merupakan suatu kegiatan ekonomi yang cukup menjanjikan dalam hal mengangkat harkat kehidupan dan pemenuhan zat gizi masyarakat terutama dalam hal sumber protein hewani. Penyediaan produk perikanan melalui akuakultur pada tahun 2005 telah mencapai 24,92%, sebaliknya peran perikanan tangkap semakin menurun.

Dalam akuakultur, mikroorganisme berperan antara lain dalam hal pakan, lingkungan, penyakit dan pengendaliannya, dan pengolahan atau penanganan produk. Akibat harga tepung ikan yang mahal, banyak ahli mencari alternatif antara lain berupa bahan nabati seperti kedele. Tetapi adanya toksikan, karbohidrat sulit cerna yang tinggi dan kandungan sejumlah asam amino yang rendah sering menjadi kendala. Usaha yang dilakukan untuk mengatasinya antara lain melalui fermentasi dan atau suplementasi sel mikroba.

Fermentasi asam laktat pada kedele terbukti menghilangkan kandungan sukrosa, menurunkan kadar rafinosa, aktivitas penghambat tripsin dan faktor penghambat absorpsi lemak. Adapun fermentasi dengan Aspergillus oryzae terbukti meningkatkan kadar protein dan kadar peptida berukuran kecil (<20 kDa), dan menghilangkan penghambat tripsin.

Penelitian tentang nutrisi bagi larvae ikan, udang serta hewan akuatik lainnya terus dilakukan agar larvae memiliki survivalitas tinggi dan pertumbuhannya baik. Diantaranya yaitu usaha pemenuhan kebutuhan gizi dalam bentuk siap digunakan (readily available) seperti asam-asam amino dan zat gizi sederhana. Selama ini kebutuhan pakan bagi larvae dipenuhi dari penyediaan pakan hidup seperti Artemia, Moina, Daphnia, rotifera, dan algae sel tunggal (green water culture).

Peningkatan kualitas pakan larvae telah dilakukan melalui pemanfaatan pakan hidup sebagai media pembawa probiotik yang dikenal dengan istilah bioenkapsulasi yang terbukti meningkatkan imunitas terhadap patogen dan stres. Peningkatan kualitas pakan melalui produksibiofilm juga terbukti meningkatkan imunitas dan produksi ikan. Biofilm merupakan komunitas mikroorganisme tidak bergerak (sessile) yang ditandai oleh sel-sel yang melekat pada suatu substrat atau lapisan interfase atau melekat satu sama lain secara tetap, oleh suatu matriks senyawa polimer ekstraseluler yang mereka produksi.

Fermentasi pakan mampu mengurai senyawa kompleks menjadi sederhana sehingga siap digunakan larvae, dan sejumlah mikroorganisme diketahui mampu mensintesa vitamin dan asam-asam amino tertentu yang dibutuhkan oleh larvae hewan akuatik. Fermentasi Bacillus circulans terhadap campuran tepung ikan, mustard oil cake, rice bran, minyak hati ikan cod, dan premix vitamin selama 4-5 hari mampu memberikan kecukupan gizi, dan survivalitas serta pertumbuhan larvae yang lebih baik.

Mikroba juga dapat berperan sebaliknya yaitu merusak bahan pakan, misalnya Aspergillus flavus yang menghasilkan aflatoksin dan Fusarium moniliforme yang menghasilkan fumonisin B1 (FB1 ). Kedua toksikan tersebut diketahui merugikan kesehatan ikan dan udang dan bersifat karsinogenik terhadap manusia.

Residu antibiotik dan pestisida tidak selalu datang dari aktivitas akuakultur tetapi dapat berasal dari luar lingkungan akuakultur. Antibiotik dapat berasal dari aktivitas pengendalian penyakit yang tidak terkendali akibat kurangnya pemahaman, atau pelaksanaan yang tidak bertanggung jawab.

Pencemaran sulit dihindari karena hingga saat ini tertib peruntukan lahan atau zonasi kegiatan ekonomi, penanganan limbah dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mempertahankan kualitas sumber daya perairan masih relatif rendah. Pada tingkat pencemaran yang rendah pada danau atau aliran sungai, permasalahan akan dapat diatasi secara alami melalui proses yang dikenal sebagai pulih diri (self purification).

Pada proses pulih diri, cemaran organik akan mengalami biodegradasi oleh flora mikroorganisme pada perairan tersebut dan setelah waktu tertentu kondisi perairan pulih seperti semula. Jika kuantitas pencemar dalam badan air cukup tinggi, proses pulih diri tidak dapat berlangsung sempurna, perairan mungkin akan menjadi kekurangan oksigen (anoksik) dan mati akibat tidak ada hewan atau tumbuhan air yang mampu hidup didalamnya.

Pada kasus dimana kuantitas cemaran materi organik cukup tinggi, maka dapat dilakukan proses bioaugmentasi dan atau biostimulasi. Pencemaran perairan dapat menyebabkan gangguan yang serius pada hewan akuatik, antara lain peningkatan frekuensi wabah penyakit, penghambatan aktivitas beragam enzim, gangguan reproduksi dan sejumlah kelainan fisiologis lainnya.

  1. Konsep Teoritis

Bioremediasi didefinisikan sebagai penggunaan organisme hidup, terutama mikroorganisme, untuk mendegradasi pencemar lingkungan yang merugikan ketingkat atau bentuk yang lebih aman. Proses bioremediasi ini dapat dilakukan secara bioaugmentasi yaitu penambahan atau introduksi satu jenis atau lebih mikroorganisme baik yang alami maupun yang sudah mengalami perbaikan sifat (improved/genetically engineered strains), dan biostimulasi yaitu suatu proses yang dilakukan melalui penambahan zat gizi tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisme atau menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa (misalnya pemberian aerasi) agar mikroorganisme tumbuh dan beraktivitas lebih baik.

Penggunaan beragam spesies mikroorganisme untuk bioremediasi telah sedemikian luas dan digunakan untuk mengatasi beragam pencemar baik organik maupun anorganik, termasuk proses bioremediasi seringkali diterapkan dalam bentuk interaksi tumbuhan-mikroorganisme (bioremediasi fito-mikrobial) misalnya penggunaan Pseudomonas putida yang berasosiasi dengan gandum (Triticum aestivum) untuk mengatasi 2,4-D dan Mesorhizobium huakuii dengan Astragalus sinicus untuk mengatasi cemaran Cd .

Usaha menjaga kualitas air oleh pembudidaya dapat dilakukan dengan tetap mengacu bioremediasi. Proses ini dapat dilakukan dengan mengkombinasikan sistim penyaringan pasir lambat dan biofilter. Biofilter pada skala yang besar dapat diwujudkan dalam bentuk lahan basah (wetland) alami, semi alami, dan buatan (constructed wetland).

Bioaugmentasi mikroorganisme seperti Bacillus spp. dapat membantu mengurai materi organik dan/atau optimasi biofilter melalui pembentukan biofilm atau asosiasi dengan akar tumbuhan air. Lahan basah alami, misalnya lahan mangrove, telah dibuktikan peranannya dalam pengendalian cemaran dari tambak seluas 286 ha melalui resirkulasi ke lahan mangrove seluas 120 ha mampu mengurangi padatan terlarut secara signifikan.

Menurut Pillay (1990) untuk keperluan akuakultur yang berkelanjutan, setiap satu hektar hutan mangrove yang diolah menjadi tambak, sekurangnya 3 hektar tetap dibiarkan sebagai hutan. Rivera-Monroy et al. (1999) memperhitungkan bahwa untuk mentransformasi nitrogen anorganik terlarut dari 1 ha tambak diperlukan lahan mangrove seluas 0,04-0,12 ha.

Lingkungan mangrove diketahui memiliki komponen biotik yang beragam dan khas, termasuk didalamnya mikroorganisme. Adapun pada saringan pasir lambat, peran biofilter dilakukan oleh mikroorganisme yang membentuk biofilm pada permukaan substrat dan mengurai materi-materi organik terlarut yang mengalir bersama air dan menurunkan kadar amonia secara cepat sehingga memperbaiki kualitas air.

Optimasi biofilter dapat dilakukan dengan kultivasi tumbuhan air (makrofit) seperti Typha latifolia (ekor kucing), Eichornia crassipess (eceng gondok), Lemna spp. (duck weed), dan Scirpus validus untuk air tawar dan penggunaan makrofit seperti Gracillaria dan Ulva untuk air laut.

Sejumlah penelitian menunjukkan optimasi penanganan air limbah akuakultur menggunakan kombinasi antara grazer animals misalnya tiram (Saccostrea commercialis), Ciliata dan alga makrofit misalnya Gracillaria edulis, secara signifikan memperbaiki kualitas air limbah baik pada sistim resirkulasi maupun non-resirkulasi ditunjukkan oleh penurunan populasi bakteri, fitoplankton dan bahan padat tersuspensi.

Tumbuhan air mampu meningkatkan penguraian materi limbah 2-3 kali lebih banyak. karena perakaran tanaman menjadi tempat yang ideal bagi mikroorganisme yang berperan dalam dekomposisi atau biodegradasi, absorpsi mineral oleh tanaman, presipitasi dan mineralisasi. Kehadiran mikroorganisme dalam jumlah tinggi di sekitar perakaran tidak terlepas dari mekanisma pompa oksigen yang dilakukan tanaman, yang mampu mentransfer oksigen ke rhizosfer.

Keberhasilan akuakultur tergantung kepada sejumlah faktor, antara lain kualitas air. Penurunan kualitas air akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan derajat imunitas ikan terhadap penyakit.

Penerapan sistim tertutup (close system) atau resirkulasi diyakini mampu mengatasi permasalahan kualitas air dan pencemaran produk perikanan oleh bahan berbahaya, proses semacam ini dapat dilakukan hingga 11 tahun dengan penggunaan air laut yang sama sebagaimana dilakukan di Distrik Banpho, Thailand. Air laut yang sudah digunakan dialirkan ke dalam kolam mangrove yang ditanami dengan algae makrofita untuk keperluan sedimentasi dan dekomposisi materi organik. Air laut selanjutnya digunakan untuk pemeliharaan Artemia, dilanjutkan dengan mengalirkan kedalam bak penampungan untuk pengaturan salinitas dan kualitas air lainnya sebelum digunakan untuk budidaya udang Penaeus monodon. Usaha tersebut berhasil menekan biaya operasional secara signifikan, menekan penggunaan obat-obatan dan khemikalia, dan menghasilkan pendapatan tambahan dari Artemia dan algae makrofit yang dipanen.

  1. Prosedur Aplikasi Dan Pengembangan

Akuakultur mengalami kerugian yang cukup besar akibat serangan penyakit infeksi dan

parasit. Salah satu peristiwa nasional yang menyebabkan kerugian yang sangat besar dalam akuakultur telah dialami Indonesia pada awal tahun 1994 akibat serangan White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang menyerang udang, serta pada tahun 2002 akibat Koi Herpes Virus (KHV) pada ikan mas dan koi (Cyprinus carpio).

Selama ini pengendalian penyakit masih mengandalkan disinfektan dan antibiotik. Pada waktu lampau, penggunaan senyawa antibiotik untuk tindakan sub-terapetik seperti pencegahan penyakit (prophylactic) dan memacu pertumbuhan hewan budidaya, sangat umum dilakukan. Penggunaan antibiotik semacam ini termasuk tidak bijaksana, begitu pula dengan penggunaan dalam dosis tinggi, jenis sangat beragam, penggunaan dalam jangka waktu lama dan penggunaan jenis yang tidak dapat diurai secara biologis (non biodegradable).

Hal ini telah merugikan masyarakat dari aspek keamanan pangan dan kesehatan masyarakat karena residu antibiotik akan tetap berada pada produk hewan hingga jangka waktu tertentu dan menyebabkan tekanan selektif pada mikroorganisme, memacu munculnya resistensi pada beragam bakteri dan memungkinkan transfer gen-gen resisten ke bakteri lainnya dan secara ekonomi telah terbukti merugikan pelaku usaha akuakultur sendiri akibat penolakan konsumen. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan vaksin, imunostimulan dan probiotik.

Probiotik yaitu makanan tambahan (suplemen) berupa sel-sel mikroorganisme hidup, yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroorganisme intestinalnya. Pada manusia, probiotik secara komersial sudah dipasarkan sejak tahun ’50-an meskipun belum menggunakan sebutan probiotik.

Probiotik untuk manusia, terutama menggunakan bakteri-bakteri asam laktat, seperti Lactobacillus spp., Streptococcus thermophilus, Enterococcus faecium, dan Lactococcus spp. Penelitian tentang probiotik bagi manusia terus dilakukan dan berkembang pesat, umumnya ditujukan untuk penyakit-penyakit infeksi seperti enteritis, diarrhoea atau stimulasi imunitas melalui suplementasi per oral untuk mengatasi beragam penyakit infeksi. Namun, pengembangan probiotik juga ditujukan untuk mengatasi penyakit degeratif seperti kanker usus besar dan arthritis dan aplikasi bukan per oral semata, misalnya untuk mengatasi karies gigi, bau badan, dan infeksi saluran kemih.

Pada ternak dan unggas probiotik telah lama digunakan, umumnya ditujukan untuk peningkatan pertumbuhan, perbaikan kualitas produk ternak dan pengendalian penyakit. Diantara mikroorganisme yang digunakan adalah Bacillus cereus,B. cereus toyoi, B. licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecium, Lactobacillus farciminis, Pediococcus acidilactici dan Saccharomyces cerevisiae.

Karakter habitat air telah mendorong munculnya definisi baru terhadap probiotik, sebagian berpendapat bahwa probiotik untuk hewan air meliputi pula peran perbaikan kualitas air dan/atau menghambat patogen di dalam air. Tetapi peran memperbaiki kualitas air berpotensi menimbulkan kerancuan dengan bioaugmentasi dan bioremediasi. Jika diperhatikan seksama sebetulnya ada tiga hal pokok yaitu ”sel mikroorganisme hidup”, ”saluran pencernaan /gastrointestinal” dan ”menguntungkan inang”, namun dengan melihat interaksi media (air) dengan hewan, maka sasaran tidak harus saluran pencernaan tetapi dapat berlangsung pada setiap bagian tubuh seperti insang, kulit, rongga mulut.

Dengan demikian, definisi probiotik dapat dikembangkan menjadi: ”suplemen berupa sel-sel mikroorganisme hidup yang diberikan dengan berbagai cara agar kontak dengan tubuh inang, atau masuk ke saluran gastrointestinal, berperan di dalamnya dan menguntungkan inangnya”.

Probiotik untuk akuakultur dapat diberikan melalui pakan, air maupun melalui perantaraan pakan hidup seperti rotifera atau artemia. Pada akuakultur mikroorganisme probiotik yang digunakan lebih beragam, diantaranya kelompok bakteri asam laktat, Vibrio alginolyticus, Aeromonas sobria, Pseudomonas fluorescens, Bacillus toyoi, Enterococcus faecium; dan yeast seperti Saccharomyces cerevisiae.

Usaha meningkatkan derajat tetas (hatching rate) telur dan survivalitas larvae telah dilakukan melalui manipulasi status mikrobiologi telur maupun lingkungannya dengan memasukkan kultur probiotik ke dalam bak inkubator atau hatching tank.

Kennedy et al. (1998) menggunakan Bacillus 48 pada common snook (Centropomus undecimalis) dan terbukti mampu meningkatkan jumlah telur yang menetas, memperbaiki survivalitas dan pertumbuhan larvae. Tetapi usaha manipulasi mikroorganisme untuk telur mengandung resiko. Jika populasi mikroorganisme pada permukaan telur tinggi dapat berakibat hipoksia pada embrio dan menghambat penetasan dan manipulasi mikroorganisme dalam bak inkubator maupun hatching tank dengan cara mengurangi keragaman epiflora telur dikhawatirkan justru menjadikan telur rentan terhadap kolonisasi oleh mikroorganisme oportunis.

Survivalitas larvae yang rendah antara lain akibat kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, tidak tersedia pakan alami yang berkualitas dan infeksi patogen. Manipulasi mikroorganisme pada hatching tank, rearing tank dan pakan hidup telah diteliti dengan maksud untuk meningkatkan survivalitas. Segera setelah telur menetas, larvae akan mengalami kolonisasi oleh mikroorganisme yang serupa dengan yang dijumpai pada telur serta perairan lingkungan hidupnya. Meskipun masih dalam bentuk alevin (larvae dengan yolk sac), tetapi sudah mulai terjadi penelanan mikroorganisme sehingga terbentuk flora mikroorganisme intestinal primer.

Usaha memanipulasi pengkoloni primer saluran pencernaan larvae telah dilakukan dengan aplikasi probiotik pada beberapa jenis ikan seperti turbot (Scopthalmus maximus) dan sea bream.

Adapun mikroorganisme yang digunakan umumnya bakteri seperti Vibrio pelagius, V. mediterranei, Aeromonas caviae, Lactobacillus plantarum, L. helveticus, bulgaricus dan Streptococcus lactis, terbukti menguntungkan bagi larva karena pertumbuhannya dan survivalitasnya lebih baik, tetapi suplementasi perlu dilakukan kontinyu untuk mempertahankan populasi probiotik pada konsentrasi yang memadai.

Peran probiotik bisa bersifat imunologik, penghambatan kolonisasi patogen melalui produksi senyawa-senyawa antimikroorganisme dan peningkatan nilai nutrisi seperti produksi vitamin-vitamin dan asam-asam amino, detoksikasi bahan pakan, serta melalui aktivitas enzim-enzim pencernaan.

Dimasa depan, persyaratan kriteria yang tegas bagi mikroorganisme probiotik untuk ikan konsumsi sudah semestinya merujuk pula pada kepentingan konsumen (manusia), termasuk di dalamnya adalah aplikasi yang dianjurkan untuk probiotik (jangka waktu penggunaan dan kadar probiotik). Dengan demikian, kriteria probiotik ikan konsumsi sebagaimana untuk manusia yaitu harus merupakan mikroorganisme GRAS (Generally Recognised As Safe).

  1. Kesimpulan

Mikroorganisme dengan ragam manfaat dan kerugian yang dapat ditimbulkan berperan dalam beragam aspek kehidupan manusia. Kemelimpahan spesies / strain yang dimiliki dan terbatasnya spesies atau strain yang sudah dipelajari atau dikembangkan, menunjukkan potensi eksplorasi dan eksploitasi seperti tanpa batas. Pengembangan probiotik dalam akuakultur perlu mendapat perhatian karena menyangkut hajat hidup masyarakat luas.

  1. DAFTAR PUSTAKA

http://www.Iptek.net.com

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Matriks RKL

Tabel. Matriks Pengelolaan Lingkungan Proyek Reklamasi Pantai Untuk Kawasan Wisata Pantai Kab. Sukajaya

KOMPONEN TERKENA DAMPAK

SUMBER DAMPAK

DAMPAK BESAR & PENTING

TOLOK UKUR DAMPAK

TUJUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN

PENGELOLAAN

LOKASI PENGELOLAAN

WAKTU PENGELOLAAN

PEMBIAYAAN

PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN

PENGELOLA

PENGAWAS

PELAPORAN

Tata ruang/Tata guna lahan

· Penggalian dan pengerukan

· Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

· Pembangunan fasilitas pelayaran

Perubahan dinamika arus dan gelombang , sehingga merubah keseimbangan transpor sedimen di pantai dan menimbulkan perubahan morfologi dasar perairan.

· Perubahan morfologi dasar perairan yang menimbulkan kerugian pada masyarakat sekitar

· Perubahan Batimetri perairan

· Mencegah terjadinya perubahan mortologi kawasan pantai dan dasar perairan sekitar proyek yang menimbulkan kerugian masyarakat di sekitar

· Dinding talud urugan di pantai dibuat landai (kemiringan ≥ 20 %)

· Dalam pelaksanaan penanganan kerusakan pantai tersebut diperlukan kajian kelayakan teknis dan ekonomi agar lebih efektif dan efisien.

·

· Dinding talud urugan

· Kawasan reklamasi pantai terutama dasar perairannya

· Selama tahap konstruksi dan pasca konstruksi proyek

· Biaya pengelolaan berasal dari pemrakarsa yang dipergunakan untuk pembangunan talud, upah personil dan biaya operasional kegiatan

· Pemrakarsa dan dinas PU. Pengairan

· Dinas Perhubungan danTelekomunikasi Kab. Sukajaya

· KAPEDALDA Kab. Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Hidrologi dan Kualitas air

· Penggalian dan pengerukan

Penurunan kualitas air sebagai akibat resuspensi sedimen

· Penurunan kualitas air sebagai akibat meningkatnya konsentrasi B3 di dalam air akibat sedimentasi

· Mencegah penurunan kualitas air sebagai akibat kegiatan pengerukan

· Melakukan uji toksisitas sedimen (TCLP: Toxicity Characteristic Leaching Procedure) untuk mengetahui potensi pencemaran dan toksitas logam berat dari bahan B3 lain yang terdapat dalam sedimen

· Melakukan analisa jenis-jenis logam berat dari B3 dalam sedimen yang akan dikeruk.

· Kawasan reklamasi pantai pelabuhan Sukajaya

· Selama kegiatan pengurugan tahap konstruksi

· Biaya pelaksanaan bersumber dari pemrakarsa, yang berupa biaya operasional

· Pemrakarsa

· Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sukajaya

· Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Hidrooseanografi

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

Perubahan dinamika arus dan gelombang, sehingga merubah keseimbangan transport sediment

· Perubahan morfologi dasar perairan yang menimbulkan kerugian pada masyarakat sekitar

· Mencegah terjadinya perubahan morfologi kawasan proyek sekitar proyek yang menimbulkan kerugian masyarakat di sekitar

· Dinding pantai yang dibuat landai (kemiringan ≥ 20%)

· Pengkajian kelayakan teknis dan ekonomis terhadap upaya pencegahan/penanggulangan kerusakan, agar lebih efektif dan efisien.

· Dinding talud urugan

· Dasar perairan proyek pengerukan

· Selama tahap pasca konstruksi/operasi

· Biaya berasal dari pemrakarsa, upah personil dan biaya pengelolaan

· Pemrakarsa

· Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Biota darat (Flora dan Fauna)

Penghijauan dan penataan kawasan sekitar pantai pelabuhan

Peningkatan jumlah dan jenis tanaman penghijauan dan Fauna

• Jumlah, jenis, keanekaragaman dan sebaran tanaman penghijauan

• Luasan lahan yang dihijaukan (%)

• Membuat penghijauan di lingkungan pelayaran

• Meningkatkan keanekaragaman tanaman serta peran dan fungsinya dalam ekosistem

· Pelaksanaan pengelolaan kegiatan penghijauan berupa penanaman tanaman penghijauan dan tanaman hias

· Tanaman penghijauan ditanam dengan jarak 5-8 meter pada lokasi lahan terbuka 40%

· Lokasi penghijauan yaitu dalam kawasan tapak proyek pada lahan terbuka, tepi jalan, tepi saluran, lahan keliling tapak proyek, tepi pantai dan taman

Penanaman tanaman penghijauan dilaksanakan selama tahap konstruksi

· Biaya pelaksanaan penghijauan bersumber dari Pemrakarsa proyek yang berupa biaya investasi. Pembelian tanaman, pupuk, dan peralatan biaya personil dan biaya operasional

· Pemrakarsa

· Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Biota Air (Plankton, Benthos)

Kegiatan pengerukan

Penurunan keanekaragaman plaknton dan benthos

Jumlah individu, jumlah jenis dan indeks keanekaragaman plankton dan benthos

Memperkecil penurunan

keanekaragaman plankton

dan benthos

· Pelaksanaan pengerukan bertahap dengan menggunakan metoda dan peralatan yang dapat menyedot langsung lumpur dan ticlak menimbulkan pengadukan dan penyebaran lumpur ke perairan sekitar

Pada perairan tapak proyek di lokasi pekerjaan pengerukan

Selama masa pekerjaan pengerukan pada tahap konstruksi

· Biaya pelaksanaan pengerukan bersumber dari pemrakarsa terdiri dari biaya sewa peralatan kapal keruk dan perlengkapannya, biaya personil dan operasional

· Pemrakarsa

· Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

· Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Persepsi Masyarakat

· Pegerukan, pegurugan dan pemadatan tanah urugan

· Mobilisasi peralatan dan material bangunan

Munculnya persepsi negatif akibat adanya gangguan kesehatan, kenyamanan dan keamanan

· Persepsi masyarakat terhadap proyek

· Tingkat kerusakan jalan desa

· Frekuensi terjadinya gangguan keamanan

Mencegah terjadinya persepsi negatif masyarakat terhadap proyek

· Membuat saluran drainase sementara selama masa konstruksi

· Membuat jalan proyek tersendiri

Tapak proyek dan sekitarnya

Selama masa konstruksi

· Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk pembuatan saluran drainase, jalan, pengawasan dan biaya operasional lainnya

· Pemrakarsa

· Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Kesehatan Masyarakat dan Pekerja

· Penggalian, pengerukan, pegurugan dan pemadatan tanah urugan

· Gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar proyek

· Ancaman keselamatan dan kesehatan pekerja

· Jumlah keluhan gejala sakit masyarakat sekitar.

· Jumlah dan intensitas kasus kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja.

· Mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar.

· Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja.

· Membuat saluran drainase sementara selama masa konstruksi.

· Menerapkan system kerja yang memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja.

· Menyertakan pekerja pada program asuransi tenaga kerja.

Tapak proyek dan sekitarnya

Selama masa konstruksi

· Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan saluran drainase jalan dan pengawasan dan biaya operasional lainnya

· Pemrakarsa

· Dinas Kesehatan Kabupaten Sukajaya

· Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Ketenagakerjaan

· Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

· Peningkatan kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar

· Menurunnya angka pennngangguran

· Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek

· Jumlah penduduk yang mengembangkan usaha yang berkaitan dengan aktifitas pelayaran

· Jumlah angkatan kerja lokal yang menganggur

· Mengurangi anngka pengangguran

· Perekrutan tenaga kerja bekerjasama dengan desa dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukajaya, dengan mengutamakan tenaga kerja lokal

tapak proyek dan sekitarnya

awal dari proses penerimaan tenaga kerja

· Dari pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya personil dan operasional

· Pemrakarsa

· Dinas Tenaga Kerja dan Transamigrasi Kab Sukajaya

· KAPELDA Kab.Sukajaya

· BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Matriks RPL

Tabel. Matriks Pemantauan Lingkungan Proyek Reklamasi Pantai Untuk Kawasan Wisata Pantai Kab. Sukajaya

Komponen Lingkungan

Sumber Dampak

Dampak Yang Dipantau

Parameter Lingkungan yang Dipantau

Tujuan Pemantauan

Metode Pemantauan

Lokasi Pemantauan

Waktu dan Frekuensi Pemantauan

Pelaksana Pemantauan

Instansi Pengawas

Pelapor

Tata ruang/Tata guna lahan

  • Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

  • Jenis komponen lingkungan tata guna lahan

  • Tata guna tanah

  • Memeriksa kesesuaian antara penggunaan lahan dengan rencana proyek

Observasi / pengamatan lapangan pada lahan proyek yang telah diurug dan membandingkan tata guna tanah hasil pengamatan dengan tata guna tanah pada rencana proyek

Tapak proyek yang telah diurug

sebulan sekali

  • Pemrakarsa

  • BPN Kabupaten Sukajaya

  • Tata Kota Kab. Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Prop. Jawa Tengah

Hidrologi dan Kualitas air
  • Kegiatan pengerukan alur pelayaran dan kolam pelabuhan

  • Jenis komponen lingkungan : hidrologi dan kualitas air

  • pH

  • DHL

  • O2 terlarut (DO)

  • TSD

  • BOD

  • Kandungan zat-zat terlarut (Fe,Cr+6,Chloride),salinitas dan kadar organik

  • Memeriksa kelayakan kualitas air sebagai akibat terjadinya resuspensi sedimen oleh karena kegiatan pengerukan

  • Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium, menggunakan metode yang sesuai dengan parameter yang akan diamati. Hasil analisis laboratorium kemudian dibandingkan dengan mutu air untuk budidaya

  • Perairan di sekitar lokasi pengerukan

Sebelum dan setelah kegiatan pengerukan dilaksanakan

  • Pemrakarsa

  • Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

  • Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Erosi, akresi dan abrasi

  • Jenis komponen lingkungan : erosi, akresi dan abrasi

  • penggerusan tebing alur, penambahan tebing alur dan pengendapan di dalam alur

  • kedalaman alur

  • luas alur

  • Memeriksa kerusakan tebing alur dan laju sedimentasi/pendangkalan alur

  • Alur Pelayaran

Sebelum dan setelah kegiatan pengerukan dilaksanakan

  • Pemrakarsa

  • Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

  • Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Hidrooseanografi

  • Pengerukan

  • Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

  • Jenis komponen lingkungan : hidrooseanografi

  • Arus (arah dan kecepatan )

  • Gelombang (tinggi, periode, arah, dan kecepatan)

  • Pola pasang surut

  • Laju sedimentasi

  • Intrusi air asin

  • Mengamati berbagai perubahan parameter lingkungan (arus, gelombang, pasang surut, sedimentasi dan intrusi air laut)

  • Observasi dengan menggunakan Current meter untuk memantau arus

  • Observasi dengan menggunakan Wave recorder untuk memantau gelombang

  • Pemeruman (sounding) untuk memantau perubahan kedalaman dasar laut

  • Pengamatan pola pasang surut harian yang terjadi

  • Pengukuran laju intrusi air asin ke lapisan tanah

  • Tapak proyek

2 kali 1 tahun

  • Pemrakarsa

  • Dinas PU Kab Sukajaya

  • Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Prop. Jawa Tengah

Biota darat (Flora dan Fauna)

  • Sumber penyebab timbulnya dampak adalah kegiatan penghijauan

  • Kegiatan pengurugan yang menimbun beberapa jenis tanaman (kelapa yang masih muda) dan beberapa rumah

  • Jumlah dan jenis yang tertimbun

  • Fauna yang terkena dampak

  • Jumlah dan jenis tanaman penghijauan

  • Jumlah, jenis Flora dan Fauna yang hilang atau direlokasi akibat penimbunan

  • Parameter lingkungan yang dipantau adalah jumlah, jenis, keanekaragaman dan sebaran vegetasi darat berupa tanaman penghijau

  • Memantau hasil pelaksanaan penanaman tanaman penghijau

  • Memantau jumlah tumbuhan dan Fauna yang mengalami penimbunan

  • Pengumpulan data secara langsung dan data sekunder mengenai jumlah tumbuhan yang tertimbun dan jumlah Fauna yang direlokasi

  • Metode pengumpulan dan analisis data Inventarisasi jumlah, jenis dan jarak tanaman-tanaman penghijau melalui pengamatan dan pencatatan langsung pada kawasan penghijauan. Analisis evaluasi keberhasilan pelaksanaan penghijauan meliputi :

  • Jumlah, jenis dan jarak tanaman penghijauan

  • Prosentase tingkat keberhasilan : prosentase luas lahan yang dihijaukan dan prosentase keberhasilan tumbuh tanaman penghijauan

  • Pemantauan dilaksanakan pada lahan penghijauan

  • Pemantauan dilakukan minimal sebanyak tiga kali selama pelaksanaan relokasi/pemindahan lokasi fauna

  • Pemantauan dilakukan minimal sebanyak tiga kali selama pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan pada tahap konstruksi

  • Pemrakarsa

  • Dinas Kebersihan dan Pertamana Kab. Sukajaya
  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

Biota Air (Plankton, Benthos)

  • Sumber penyebab timbulnya dampak adalah penurunan kualitas air akibat kegiatan pengeruakan dan pembangunan fasilitas pelabuhan

  • Jenis parameter yang dipantau adalah plankton dan benthos

  • Parameter yang dipantau adalah biota air khususnya populasi plankton dan benthos

  • Mengamati dan mengevaluasi perubahan keanekaragaman atau populasi plankton dan bhentos agar tetap seperti kondisi pada Rona Awal

  • Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan sampel plankton dengan alat plankton net dan bhentos dengan dreuger dan botol sampel. Analisi sampel dilakukan di laboratorium dengan identifikasi, analisis data meliputi kelimpahan dan indeks keanekaragaman plankton dan bhentos

  • Pemantauan dilaksanakan di sekitar lokasi pengerukan kolam pelabuhan dan alur layar

  • Pada lokasi perairan pantai disebelah barat dan timur pelabuhan

  • Selama kegiatan pengerukan pada tahap konstruksi minimal tiga kali pemantauan

  • Pemrakarsa

  • Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

  • Dinas Perhubungan dan Telekomikasi Kab. Sukajaya
  • KAPEDALDA Kab. Sukajaya

  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Persepsi Masyarakat

  • Pengerukan, pengurugan dan pemadatan tanah urugan

  • Mobilisasi peralatan

  • Pengadaan material bangunan dan tanah urugan

  • Munculnya persepsi negatif terhadap proyek akibat gangguan kesehatan

  • Persepsi masyarakat terhadap proyek

  • Mengevaluasi dampak proyek terhadap : persepsi negatif masyarakat

  • Observasi dan wawancara, analisis deskriptif

  • Tapak proyek dan sekitarnya

  • Selama masa konstruksi, setiap tiga bulan sekali
  • Pemrakarsa

  • Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Kesempatan kerja dan Pendapatan

  • Perluasan dan intensitas pelayaran

  • Peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan

  • Jumlah / prosentase masyarakat yang mendapat kesempatan kerja, sebagai akibat kegiatan proyek

  • Menghitung jumlah kesempatan kerja yang didapat masyarakat

  • Observasi dan wawancara, analisis deskriptif

  • Tapak proyek dan lingkungan pemukiman disekitar tapak proyek

  • Setiap 3 bulan selama masa konstruksi
  • Pemrakarsa

  • Dinas Pekerja Umum Kabupaten Sukajaya
  • KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Kesehatan Masyarakat dan Pekerja

  • Penggalian, pengerukan, pengurugan, dan pemadatan lahan

  • Semua kegiatan konstruksi

  • Gangguan kesehatan pada masyarakat di sekitar tapak proyek

  • Ancaman keselamatan dan kesehatan pekerja

  • Jumlah kelurahan gejala sakit masyrakat di sekitar tapak proyek

  • Jumlah dan intensitas kasus kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja

  • Mengevaluasi kegiatan pengelolaan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehtan pada masyarakat sekitar

  • Mengevaluasi kegiatan pengelolaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerjaan

  • Wawancara dan observasi, analisis deskriptif

  • Tapak proyek dan sekitarnya

  • Selama masa konstruksi, 3 bulan sekali

  • Pemrakarsa

  • Dinas Kesehatan Kabupaten Sukajaya

  • Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab Sukajaya
  • KAPEDALADA Kabupaten Sukajaya

  • BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Doc. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang 2

  2. Maksud dan Tujuan Pelaksanaan RKL 3

  3. Kegunaan Dilaksanakan Pemantauan Lingkungan Hidup 3

  4. Kedudukan RKL dalam AMDAL 4

  5. Peraturan Perundang-undangan 5

  6. Identitas Pemrakarsa 6

  7. Identitas Penyusun 6

BAB II. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN

  1. Pendekatan Teknologi 7

  2. Pendekatan Sosial Ekonomi 7

  3. Pendekatan Institusi 7

BAB III. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN

  1. Prinsip Dan Mekanisme Pengeloaan Lingkungan 8

  2. Rencana Pengelolaan Lingkungan 8

3.2.1. Tahap Prakontruksi 8

3.2.2. Tahap Kontruksi 9

3.2.3. Tahap Operasional 15

DAFTAR PUSTAKA 27

BAB I

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Proyek reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai kabupaten Sukajaya ini dimaksudkan untuk mendukung dan memperlancar proyek pembangunan wisata pantai yang berada diwilayah Pelabuhan Sukajaya. Hal ini sesuai dengan rencana tata ruang kabupaten Sukajaya yang berada dalam wilayah pembangunan dengan peruntukan kawasan industri, pelabuhan dan sarana pendukungnya, sehingga keberadaan kedua kegiatan tersebut diharapkan dapat memacu pertumbuhan pembangunan dan perkembangan wilayah sekitarnya.

Dampak penting yang diperkirakan akan timbul setelah pelaksanaan proyek reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai ini dapat terjadi pada berbagai komponen lingkungan yang meliputi komponen fisika-kimia, biologi serta sosial ekonomi, sosial budaya dan kesejahteraan masyarakat, yang berupa dampak positif maupun negative baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dalam skala ruang dan waktu yang berbeda sesuai dengan tahapan pelaksanaan proyek.

Dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi dapat diminimalkan atau diperkecil melalui pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berupa tindakan atau upaya-upaya mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak penting yang bersifat negative dan meningkatkan dampak positif dan pelaksanaan pemantauan lingkungan hidup yang berupa tindakan pemantauan terhadap perubahan komponen atau parameter lingkungan hidup sebagai dampak penting yang akan timbul sebagai akibat pelaksanaan proyek.

Guna melaksanakan pengelolaan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).

Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan bagian dokumen AMDAL Reklamasi Pantai yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan kawasan wisata pantai. Pelaksanaan RKL juga diperlukan bagi pihak lain yang berkepentingan antara lain:

  • Institusi Pemerintah sebagai perencana kegiatan pelaksana dan pengawas pembangunan serta pengelolaan lingkungan hidup di wilayah reklamasi pantai dan sekitarnya

  • Masyarakat di sekitar lokasi reklamasi pantai terutama yang akan terkena dampak penting.

  • Pemerhati lingkungan termasuk LSM, pakar dan masyarakat umum lainnya

    1. Maksud dan Tujuan Pelaksanaan RKL

Tidak semua proyek atau rencana kegiatan wajib dilengkapi dengan AMDAL. Daftar kegiatan yang wajib dilengkapi studi AMDAL dapat dilihat dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (KepMen LH) No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL atau dapat juga diperoleh dari kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) atau pemerintah daerah yang bersangkutan. Apabila rencana kegiatan mendapat izin dan melanjutkan pelaksanaan kegiatan, pemrakarsa diwajibkan melakukan hal-hal yang telah tertera dalam:

  • Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) untuk mengendalikan dampak

  • Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) untuk memantau dampak

RKL adalah dokumen yang memuat upaya-upaya untuk mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana suatu kegiatan. Upaya-upaya tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan dasar-dasar pengelolaan dampak yang dihasilkan dari kajian ANDAL

    1. Kegunaan Dilaksanakan Pemantauan Lingkungan Hidup

  1. Bagi pemerintah, AMDAL bermanfaat untuk:

  • Mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pemborosan sumber daya alam secara lebih luas.

  • Menghindari timbulnya konflik dengan masyarakat dan kegiatan lain di sekitarnya.

  • Menjaga agar pelaksanaan pembangunan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

  • Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup.

  • Bahan bagi rencana pengembangan wilayah dan tata ruang.

  1. Bagi pemrakarsa, AMDAL bermanfaat untuk:

  • Menjamin keberlangsungan usaha dan/atau kegiatan karena adanya proporsi aspek ekonomis, teknis dan lingkungan.

  • Menghemat dalam pemanfaatan sumber daya (modal, bahan baku, energi).

  • Dapat menjadi referensi dalam proses kredit perbankan.

  • Memberikan panduan untuk menjalin interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar sehingga terhindar dari konflik sosial yang saling merugikan.

  • Sebagai bukti ketaatan hukum, seperti perijinan.

  1. Bagi masyarakat, AMDAL bermanfaat untuk:

  • Mengetahui sejak dini dampak positif dan negatif akibat adanya suatu kegiatan sehingga dapat menghindari terjadinya dampak negatif dan dapat memperoleh dampak positif dari kegiatan tersebut.

  • Melaksanakan kontrol terhadap pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan pemrakarsa kegiatan, sehingga kepentingan kedua belah pihak saling dihormati dan dilindungi.

  • Terlibat dalam proses pengambilan keputusan terhadap rencana pembangunan yang mempunyai pengaruh terhadap nasib dan kepentingan mereka.

1.4. Kedudukan RKL dalam AMDAL

Menurut Suratmo, (1999) kedudukan RKL dalam AMDAL dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Penanganan dampak harus mencakup pertimbangan lingkungan

  2. Beberapa jenis dampak hanya memerlukan cara penanganan yang sederhana, dan dampaknya terhadap lingkungan adalah kecil

  3. Penanganan dampak dimulai dan pemilihan alternative

  4. Penanganandampak memerlukan biaya

  5. Kebanyakan pemrakarsa tidak berminat untuk mengembangkan ditapak positif oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan upaya pengelolaan dampak positif

1.5. Peraturan Perundang-undangan

Dalam penyempurnaan Studi Amdal, beberapa peraturan-peraturan yang digunakan sebagai acuan adalah peraturan-peraturan yang diberlakukan oleh Pemerintah RI untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan diantaranya :

  1. Undang –Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

  2. Undang –Undang No.21 Tahun 1992 tentang Pelayaran.

  3. Undang-undang RI No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup

  4. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan

  5. Peraturan Pemerintah RI No.70 tahun 1996 tentang kepelabuhan

  6. Peraturan Pemerintah RI No.18 tahun 1999 tentang pencemaran laut

  7. Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 1999 tentang angkutan perairan

  8. Peratutan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah No.1 tahun 1990 tantang pengelolaan lingkungan hidup di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah

  9. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-02/MENKLH/I/1998 Tentang Pedoman Penentuan Baku Mutu Lingkungan

  10. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-14/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL

  11. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-13/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Penyusunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL

  12. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-14/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL

  13. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-39/MENLH/08/1996 Tentang Jenis Kegiatan Yang Harus Dilengkapi Dengan AMDAL

  14. Keputusan Kepala BAPEDDAL No. Kep-056 Tahun 1994 Tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting

  15. Keputusan Kepala BAPEDDAL No. 299/II/1996 Tentang Pedoman Teknia Kajian Aspek Sosial dalam Pemyusunan AMDAL

  16. Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Tengah No. 660.I/26/1990 Tentang Baku Mutu Kualitas Air di Propinsi Jawa Tengah

  17. MARPOL 73/78

1.6. Identitas Pemrakarsa

Nama Proyek : Reklamasi Pantai untuk kawasan wisata pantai

Pekerjaan : Penyusunan Dokumen ANDAL, RKL dan RPL

Reklamasi Pantai

Pemimpin Proyek : Ir. Adi Nugroho

Penanggung Jawab AMDAL : Dr. Pariman ST

Lokasi Proyek : Pelabuhan Sukajaya, Kabupaten Sukajaya

1.7. Identitas Penyusun Amdal

Nama : Fadhli S

Alamat : Jl Banjarsari No 58B Tembalang, Semarang

Penanggungjawab Proyek : Ir. Hadi Saputra

Ketua Tim Ahli : Dr. Herman Sudirman

Ahli Hidro-Oseanografi : Dr. Elis Sungkar

Ahli Kimia-Fisika : Dr. Andrea Hiranata

Ahli Biologi dan Kelautan : Dr. Desi Aprilia

Ahli SosEkBudKesmas : Dr. Sulisetyaningsih

BAB II

PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Pengelolaan lingkungan kegiatan reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai ini dilaksanakan dengan menggunakan salah satu atau berbagai pendekatan pengelolaan lingkungan hidup. Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani setiap dampak besar dan penting yang telah diprediksikan dalam Studi ANDAL ditentukan dan dipilih dengan mempertimbangkan berbagai aspek antara lain: .

  • Karakteristik dampak yang dikelola

  • Tujuan pengelolaan dampak

  • Efektifitas dan ketepatan pelaksanaan pengelolaan

  • Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pengolahan

  • Kendala, waktu, dana clan tenaga dalam pelaksanaan pengelolaan.

Pendekatan pengelolaan lingkungan yang digunakan untuk menangani dampak besar dan penting Rencana reklamasi pantai untuk kawasan pantai ini meliputi:

2.1 Pendekatan Teknologi

Pendekatan teknologi adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting. Berdasarkan pertimbangan berbagai aspek sebagaimana telah disebutkan diatas, maka untuk mengelola suatu dampak dipilih suatu cara atau teknologi yang tepat, efektif, efesien dan dapat dilaksanakan.

2.2 Pendekatan Sosial Ekonomi

Pendekatan sosial ekonomi adalah langkah langkah yang akan ditempuh Pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak besar dan penting melalui tindakan-tindakan yang berdasarkan pada interaksi sosial dan bantuan peran Pemerintah. Bantuan peran pemerintah diharapkan karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa.

2.3 Pendekatan Institusi

Pendekatan institusi adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting. Mekanisme pelaksanaan pendekatan antara lain dalam bentuk kerjasama dengan instansi atau lembaga yang terkait dengan pengelolaan lingkungan, serta pengawasan dan pelaporan hasil pengelolaan lingkungan.

BAB III

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN

3.1 Prinsip Dan Mekanisme Pengeloaan Lingkungan

Prinsip dasar dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan dalam proyek Reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai ini adalah sebagai berikut:

  • Minimalisasi dampak negatif dan optimalisasi dampak positif

  • Penetapan dampak yang perlu dikelola

  • Penetapan upaya pengelolaan dampak

  • Kejelasan kewenangan, tugas, dan tanggungjawab pihak yang terkait

3.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan

3.2.1. Tahap Prakonstruksi

  • Survei dan perijinan

Kegiatan survey dan perijinan meliputi pengukuran lapangan dan pengajuan ijn prinsip. kegiatan ini telah dilakukan pada bulan Mei 2006.

  • Sosialisasi Rencana Kegiatan

Berdasarkan daftar isian yang dibagikan kepada para peserta sosialisasi yaitu masyarakat desa Mugimakmur dan desa Sukasejahtera dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat mendukung adanya rencan proyek pembangunan wisata pantai tersebut karena beberapa alasan, antara lain:

  1. Karena dengan adanya proyek tersebut akan membuka peluang kerja di dua desa sehingga akan mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan masyarakat dan dapat mensejahterakan masyarakat.

  2. Karena pembangunan proyek tersebut sesuai dengan rencana pemerintah, dimana dalam rangka pengembangan wilayah industri.

  • Pengadaan lahan

Proses pengadaan lahan diwilayah desa sukasejahtera sejumlah 25Ha dan desa mugimakmur sejumlah 15Ha. tambak yang akan diurug lebih dari 50% ternyata sudah berupa laut, karena pengaruh abrasi, sehingga para pemilik tambak yang sudah berubah menjadi laut tidak akan merasa keberatan dibeli oleh proyek.

3.2.2. Tahap Konstruksi

  • Recruitmen Tenaga Kerja

Pada tahap ini dibutuhkan tenaga kerja sekitar 150 orang buruh bangunan, 5 orang tenaga pelaksana dan 2 orang site manajer (sarjana).

  • Mobilisasi Peralatan dan Material

Mobilisasi peralatan dan material menggunakan jalan lingkar Semarang-SukaJaya yang berupa tanah tegalan dan tambak, belum ada pemukiman.

  • Pematang Lahan

Kegiatan ini akan merubah fungsi lahan yang berupa tambak. peralihan fungsi lahan ini akan mempengaruhi produktifitas lahan lainnya.

  • Pembangunan fisik bangunan

Pembangunan fisik bangunan akan menurunkan kualitas lingkungan ynag berupa kulaitas udara, kebisingan, dan penurunan kualitas air laut.

  • Pemasangan Peralatan

Pemasangan peralatan akan sama dampaknyadengan pembangunan fisik bangunan. namun dalam skala yang lebih rendah karen waktu pemasangannya yang relatif lebih cepat dibanding waktu pembangunan fisik lainnya.

Komponen Fisik-Kimia

1) Hidrooseanografi

a). Dampak penting dan sumber dampak penting

  • Dampak yang timbul berupa:

Perubahan dinamika arus dan gelombang , sehingga merubah keseimbangan transpor sedimen di pantai dan menimbulkan perubahan morfologi dasar perairan.

  • Sumber dampak yang terjadi adalah :

        • Penggalian dan pengerukan

        • Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

        • Pembangunan fasilitas pelayaran

b). Tolak ukur dampak

        • Perubahan morfologi dasar perairan yang menimbulkan kerugian pada masyarakat sekitar

        • Perubahan Batimetri perairan

c). Tujuan pengelolaan lingkungan

Mencegah terjadinya perubahan mortologi kawasan pantai dan dasar perairan sekitar proyek yang menimbulkan kerugian masyarakat di sekitar

d). Pengelolaan lingkungan

  • Dinding talud urugan di pantai dibuat landai (kemiringan ≥ 20 %)

  • Dalam pelaksanaan penanganan kerusakan pantai tersebut diperlukan kajian kelayakan teknis dan ekonomi agar lebih efektif dan efisien.

e). Lokasi pengelolaan

  • Dinding talud urugan

  • Kawasan alur pelayaran terutama dasar perairannya

f). Periode pengelolaan

Selama tahap konstruksi dan pasca konstruksi proyek

g). Pembiayaan

Biaya pengelolaan berasal dari pemrakarsa yang dipergunakan untuk pembangunan talud, upah personil dan biaya operasional kegiatan

h). Institusi pengelola

  • Pelaksana : Pemrakarsa dan dinas PU. Pengairan

  • Pengawas : Dinas Perhubungan danTelekomunikasi Kab. SukaJaya

  • Pelaporan : – KAPEDALDA Kab. SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

2) Kualitas air

a). Dampak penting dan sumber dampak penting

  • Dampak penting yang timbul berupa :

Penurunan kualitas air sebagai akibat resuspensi sedimen

  • Sumber dampak :

Penggalian dan pengerukan

b). Tolak ukur dampak

Penurunan kualitas air sebagai akibat meningkatnya konsentrasi B3 di dalam air akibat sedimentasi

c). Tujuan pengelolaan lingkungan

Mencegah penurunan kualitas air sebagai akibat kegiatan pengerukan.

d). Pengelolaan lingkungan

  • Melakukan uji toksisitas sedimen (TCLP: Toxicity Characteristic Leaching Procedure) untuk mengetahui potensi pencemaran dan toksitas logam berat dari bahan B3 lain yang terdapat dalam sedimen.

  • Melakukan analisa jenis-jenis logam berat dari B3 dalam sedimen yang akan dikeruk. Apabila sedimen yang akan dikeruk mengandung logam berat dan B3 laiinya atau toksisitasnya cukup tinggi, maka penanganan material keruk perlu perlakuan khusus, untuk mencegah pencemaran tanah dan air tanah oleh logam berat B3 yang terdapat dalam material kerukan.

e). Tujuan pengelolaan lingkungan

Mengendalikan/memperkecil dampak pengurungan terhadap penurunan kualitas air

f). Lokasi Pengelolaan

Kawasan wisata pantai Kab. SukaJaya

g). Periode Pengelolaan

Selama kegiatan pengurugan tahap konstruksi.

h). Biaya pengelolaan lingkungan

Biaya pelaksanaan bersumber dari pemrakarsa, yang berupa biaya operasional.

i). Institusi Pengelola

  • Pelaksana : Pemrakarsa

  • Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi

  • Pelaporan hasil : KAPELDA dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Sosekbud

  1. Persepsi Masyarakat

a. Dampak penting dan sumber dampak penting

1). Dampak penting :

Munculnya persepsi negatif akibat adanya gangguan kesehatan, kenyamanan dan keamanan.

  1. Sumber dampak

    • Pegerukan, pegurugan dan pemadatan tanah urugan

    • Mobilisasi peralatan dan material bangunan

  2. Tolak ukur dampak :

a). Persepsi masyarakat terhadap proyek

  1. Tingkat kerusakan jalan desa

  2. Frekuensi terjadinya gangguan keamanan

    1. Tujuan pengelolaaan

Mencegah terjadinya persepsi negatif masyarakat terhadap proyek.

  1. Pengelolaan lingkungan

    • Membuat saluran drainase sementara selama masa konstruksi

    • Membuat jalan proyek tersendiri

    1. Lokasi pengelolaan : Tapak proyek dan sekitarnya

    2. Periode pengelolaan : Selama masa konstruksi

    3. Biaya pengelolaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk pembuatan saluran drainase, jalan, pengawasan dan biaya operasional lainnya

  1. Institusi Pengelola

    1. Pelaksana : Pemrakarsa

    2. Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten SukaJaya

    3. Pelaporan : – KAPELDA Kabupaten SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah.

  1. Kenyamanan Lingkungan

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

    1. Dampak penting

  • Kenyamanan lingkungan

b) Sumber dampak

  • Pengerukan, pegurugan dan pemadatan tanah.

  • Mobilisasi peralatan

  • Pengadaan material urugan dan material bangunan

      1. Tolok ukur dampak

Jumlah/prosentase masyarakat yang merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan, segabai akibat kegiatan proyek

3) Tujuan pengelolaaan

Mencegah dan mengurangi rasa tidak nyaman masyarakat

4) Pengelolaan lingkungan

  1. Pengangkutan peralatan dan material bangunan agar dilaksanakan dengan membuat jalan proyek tersendiri mulai dari jalan lingkar ke lokasi proyek.

  2. Selama kontruksi, agar dibuat drainase sementara untuk menghindari timbulnya genangan dan banjir.

5) Lokasi pengelolaan : Tapak proyek

6) Periode pengelolaan

Pada awal dan selama masa konstruksi.

7) Pembiayaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk pembuatan saluran drainase, pembayaran premi asuransi, biaya personil dan opersional kegiatan proyek.

8) Institusi Pengelola

      1. Pelaksana : Pemrakarsa

      2. Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten SukaJaya

      3. Pelaporan : – KAPELDA Kabupaten SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah.

  1. Kesehatan Masyarakat dan Pekerja

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

a) Dampak penting

  • Gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar proyek.

  • Ancaman keselamatan dan kesehatan pekerja

b) Sumber dampak

  • Penggalian, pengerukan, pegurugan dan pemadatan tanah urugan.

2). Tolok ukur dampak

  • Jumlah keluhan gejala sakit masyarakat sekitar.

  • Jumlah dan intensitas kasus kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja.

3) Tujuan pengelolaaan

  • Mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar.

  • Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja.

4) Pengelolaan lingkungan

  • Membuat saluran drainase sementara selama masa konstruksi.

  • Menerapkan system kerja yang memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja.

  • Menyertakan pekerja pada program asuransi tenaga kerja.

5) Lokasi pengelolaan : Tapak proyek dan sekitarnya

6) Periode pengelolaan : Selama masa konstruksi.

7) Pembiayaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan saluran drainase jalan dan pengawasan dan biaya operasional lainnya

8). Institusi Pengelola

a). Pelaksana : Pemrakarsa

b). Pengawas : -Dinas Kesehatan Kabupaten SukaJaya

-Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. SukaJaya

c). Pelaporan : – KAPELDA Kabupaten SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah.

  1. Keamanan Lingkungan

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

      1. Dampak penting

Peningkatan tindak pencurian dan kriminalitas lainnya

b) Sumber dampak penting

  • Mobilisasi peralatan

  • Pengadaan material urugan dan material bangunan

  • Mobilisasi tenaga kerja

c) Tolok ukur dampak

  • Frekuensi dan intensitas tindak kejahatan

  • Keresahan masyarakat

2) Tujuan pengelolaaan

  1. Mencegah timbulnya tindak kejahatan/kriminalitas pencurian, baik dari segi kuantitas maupun kualitas

  2. Mencegah peningkatan keresahan masyarakat

3) Pengelolaan lingkungan

Membentuk satuan pengamanan proyek bekerja sama dengan seksi keamanan desa dan kepolisian setempat.

4) Lokasi pengelolaan : Tapak proyek dan sekitarnya.

5) Periode pengelolaan : Selama masa konstruksi.

6) Pembiayaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk keperluan pembentukan tenaga keamanan, upah dan biaya opersional lainnya

7) Institusi Pengelola

a). Pelaksana : Pemrakarsa

b). Pengawas : Kepolisian Resort SukaJaya

c). Pelaporan : – KAPELDA Kabupaten SukaJaya

– BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

      1. Tahap Operasional

  • Pengoperasian wisata pantai

Pengoperasian wisata pantai merupakan aktifitas pendukung yang diharapkan mampu mengacu perkembnagna wilayah sekitar dan memberikan peluang pada masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata pantai. sehingga diharapkan dampak yang akan muncul adalah dampak positif.

Kegiatan wisata umum meliputi :

  • Aquarium raksasa

  • Water Boom

  • Retoran terapung

  • Kios Souvenir

  • Area pasir putih

Komponen Fisik-Kimia

  1. Hidrooseanografi

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

a). Dampak penting

Perubahan dinamika arus dan gelombang, sehingga merubah keseimbangan transport sediment

b). Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

2) Tolok ukur dampak

Perubahan morfologi dasar perairan yang menimbulkan kerugian pada masyarakat sekitar

3) Tujuan pengelolaaan

Mencegah terjadinya perubahan morfologi kawasan proyek sekitar proyek yang menimbulkan kerugian masyarakat di sekitar

4) Pengelolaan lingkungan

a). Dinding pantai yang dibuat landai (kemiringan ≥ 20%)

  1. Pengkajian kelayakan teknis dan ekonomis terhadap upaya pencegahan/penanggulangan kerusakan, agar lebih efektif dan efisien.

5) Lokasi pengelolaan

a). Dinding talud urugan

b). Dasar perairan proyek pengerukan

6) Periode pengelolaan : Selama tahap pasca konstruksi/operasi

7) Pembiayaan :

Biaya berasal dari pemrakarsa, upah personil dan biaya pengelolaan.

8) Institusi Pengelola

        1. Pelaksana : Pemrakarsa

    1. Pengawas : Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. SukaJaya

    2. Pelaporan : -KAPELDA Kabupaten SukaJaya

– BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah.

  1. Tata guna Lahan

1). Dampak penting dan sumber dampak penting

a) Dampak penting yang timbul berupa :

- Perubahan tata guna lahan

b) Sumber dampak penting adalah :

- Kegiatan pengurugan dan pemadatan tanah urugan

- Pembangunan fasilitas pelayaran

2). Tolak ukur dampak

Kesesuaian antara tata guna lahan setelah pengurugan dengan rencana proyek

3). Tujuan pengelolaan lingkungan

Meningkatkan kegunaan lahan dan mengurangi dampak negatif perubahan tata guna lahan.

4). Pengelolaan lingkungan

- Pengurugan dan pemadatan tanah mengacu kepada detail desain

- Pemanfaatan tanah yang telah diurug harus sesuai rencana dan mempertimbangkan pemanfaatan lahan yang ada di sekitarnya, untuk mencegah timbulnya konflik kepentingan

5). Lokasi pengelolaan : Tanah/ hasil pengurugan

6).Periode pengelolaan : Selama tahap konstruksi dan pascakonstruksi

7). Pembiayaan

Biaya pengelolaan lingkungan berasal dari pemrakarsa dan dimanfaatkan guna pengendalian dan pengawasan penggunaan lahan, upah personil dan biaya pengelolaan.

8). Institusi pengelola

a) Pelaksana: Pemrakarsa

b) Pengawas: – BPN Kab. SukaJaya

- BAPPEDA Kab. SukaJaya

c) Pelaporan: – KAPEDALDA Kab. SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Biologi

  1. Biota darat

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

a) Dampak penting

Peningkatan jumlah dan jenis tanaman penghijauan dan Fauna

b) Sumber dampak

Penghijauan dan penataan kawasan sekitar alur pelayaran

2) Tolak Ukur dampak

• Jumlah, jenis, keanekaragaman dan sebaran tanaman penghijauan

• Luasan lahan yang dihijaukan (%)

3) Tujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan

Membuat penghijauan di lingkungan pelayaran

Meningkatkan keanekaragaman tanaman serta peran dan fungsinya dalam ekosistem

4) Pengelolaan Lingkungan

  • Pelaksanaan pengelolaan kegiatan penghijauan berupa penanaman tanaman penghijauan dan tanaman hias. Tanaman penghijauan berupa tanaman peneduh antara lain, angsana, akasia, beringin, bungur, flamboyan, tanjung, waru, ketapang, dan mangove; tanaman hias yang sekaligus berfungsi sebagai pengarah angin antara lain palem raja, palem hias dan kelapa;serta tanaman hias antara lain, bougenvil, kembang sepatu, puring, teh-tehan, krokot dan rumput manila.

  • Tanaman penghijauan ditanam dengan jarak 5-8 meter pada lokasi lahan terbuka 40% dari lahan yang digunakan untuk pelabuhan atau ±1,2 Ha, pada tepi jalan, tepi saluran dan sekeliling batas lahan proyek. Sedangkan tanaman hias dapat dikombinasikan dengan tanaman penghijauan pada lahan terbuka maupun pada lahan untuk taman. Teknis pelaksanaan penghijauan didesain melalui perencanaan detail proyek (DED) dengan mempertimbangkan peran dan fungsi tanaman penghijauan dalam ekosistem serta estetika.

5) Lokasi pengelolaan

Lokasi penghijauan yaitu dalam kawasan tapak proyek pada lahan terbuka, tepi jalan, tepi saluran, lahan keliling tapak proyek, tepi pantai dan taman.

6) Periode Pengelolaan

Penanaman tanaman penghijauan dilaksanakan selama tahap konstruksi

7) Biaya Pengelolaan lingkungan

Biaya pelaksanaan penghijauan bersumber dari Pemrakarsa proyek yang berupa biaya investasi. Pembelian tanaman, pupuk, dan peralatan biaya personil dan biaya operasional.

8) lnstitusi Pengelola

Institusi pengelola tetdiri dari:

a) Pelaksana : Pemrakarsa

b) Pengawas : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. SukaJaya

c) Pefaporan Hasil : – KAPEDALDA Kab. SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Biota Air Plankton Benthos

1) Dampak penting dan sumber dampak penting

a) Dampak Penting

Penurunan keanekaragaman plaknton dan benthos

b) Sumber dampak

Kegiatan pengerukan

2) Tolak Ukur dampak

Jumlah individu, jumlah jenis dan indeks keanekaragaman plankton dan benthos.

3) Tujuan rencana pengelolaan

Memperkecil penurunan keanekaragaman plankton dan benthos

4) Pengelolaan lingkungan

Pelaksanaan pengerukan bertahap dengan menggunakan metoda dan peralatan yang dapat menyedot langsung lumpur dan ticlak menimbulkan pengadukan dan penyebaran lumpur ke perairan sekitar

5) Lokasi Pengelolaan

Pada perairan tapak proyek di lokasi pekerjaan pengerukan

6) Periode Pengelolaan

Selama masa pekerjaan pengerukan pada tahap konstruksi

7) Biaya pengelolaan

Biaya pelaksanaan pengerukan bersumber dari pemrakarsa terdiri dari biaya sewa peralatan kapal keruk dan perlengkapannya, biaya personil dan operasional

8) Institusi Pengelola

a) Pelaksana: Pemrakarsa

b) Pengawas:- Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. SukaJaya

- Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. SukaJaya

c) Pelaporan hasil : – KAPEDALDA Kab. SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Sosial, Ekonomi, Sosial

  1. Ketenagakerjaan

  1. Dampak Penting dan Sumber Dampak Penting

    1. Dampak Penting

      • Peningkatan kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar.

      • Menurunnya angka pennngangguran

    2. Sumber Dampak Penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

  1. Tolak Ukur Dampak

    • Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek.

    • Jumlah penduduk yang mengembangkan usaha yang berkaitan dengan aktifitas pelayaran

    • Jumlah angkatan kerja lokal yang menganggur.

  1. Tujuan Pengelolaan

Mengurangi anngka pengangguran.

  1. Pengelolaan Lingkungan:

Perekrutan tenaga kerja bekerjasama dengan desa dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten SukaJaya, dengan mengutamakan tenaga kerja lokal.

  1. Lokasi Pengelolaan : tapak proyek dan sekitarnya

  2. Periode Pengelolaan : awal dari proses penerimaan tenaga kerja

  3. Pembiayaan

Dari pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya personil dan operasional

  1. Institusi Pengelola

    1. Pelaksana : Pemrakarsa

    2. Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transamigrasi Kab SukaJaya

    3. Pelaporan : – KAPEDALDA Kab SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Mata Pencaharian

1) Dampak Penting dan Sumber Dampak Penting

a) Dampak Penting

        • Peningkatan kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar

        • Menurunnya angka pengangguran

b). Sumber Dampak Penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

2) Tolak Ukur Dampak

a). Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek

b). Jumlah angkatan kerja lokal yang menganggur

3) Tujuan Pengelolaan

a). Mengurangi angka pengangguran

  1. Mencegah peningkatan kekersan masyarakat

4) Pengelolaan Lingkungan:

  • Perekrutan tenaga kerja bekerjsama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrsi Kabupaten pelayaran

  • Pembinaan usaha pada masyarakat sekitar yang dapat menunjang kegiatan pelayaran

5) Lokasi Pengeelolaan : tapak proyek dan sekitarnya

6) Periode Pengelolaan : selama proses operasi

7) Pembiayaan :

Pemrakarsa dan digunakan untuk biaya operasional dan upah personil

8). Institusi Pengelola :

a). Pelaksana : Pemrakarsa

b). Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. SukaJaya

c). Pelaporan : – KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

– BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Pendapatan Keluarga

1). Dampak penting dan sumber dampak penting

a). Dampak penting

Pendapatan keluarga masyarakat sekitar pelabuhan

b). Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian dan fasilitas pelabuhan

2). Tolak ukur dampak

Jumlah pendapatan keluarga

3). Tujuan Pengelolaan

Meningkatkan jumlah pendapatan keluarga masyarakat sekitar pelabuhan

4). Pengelolaan lingkungan :

  • Perekrutan tenaga kerja bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten SukaJaya, dengan mengutamakan tenaga kerja lokal.

  • Kesempatan usaha diprioritaskan penduduk terkena dampak

5). Lokasi pengelolaan : tapak proyek dan sekitarnya

6). Periode pengelolaan : selama pelabuhan beroperasi

7). Pembiayaan :

Pemrakarsa dan digunakan untuk biaya operasional dan upah personil

8). Institusi pengelola :

a). Pelaksana : pengelola pelabuhan

  1. Pengawas : – Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.

SukaJaya

- Bagian Perekonomian Kabupaten SukaJaya

c). Pelaporan : – KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Mobilitas Penduduk

1). Dampak penting dan sumber penting

a). Dampak penting

Meningkatnya aktifitas dan mobilitas penduduk

b). Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian dan fasilitas pelayaran

2). Tolak ukur dampak

Produktifitas dan mobilitas penduduk

3). Tujuan pengelolaan

Mendorong mobilitas penduduk untuk meningkatkan produktifitasnya.

4). Pengelolaan lingkungan :

Memprioritaskan penduduk wilayah studi dalam pemberian kesempatan berusaha dan kesempatan kerja yang tersedia

5). Lokasi pengelolaan : wilayah sekitar pelayaran

6). Periode pengelolaan : selama proyek beroperasi

7). Pembiayaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional dan upah personil

8). Institusi pengelola :

a). Pelaksana : pengelola pelayaran

b). Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. SukaJaya

c). Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Kecemburuan Sosial

1). Dampak penting dan sumber dampak penting

a). Dampak penting

Kecemburuan sosial yang terjadi sebagai akibat rasa kecewa oleh karena tidak terekrut sebagai tenaga kerja pelayaran

b). Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

2). Tolak ukur dampak

  • Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek.

  • Jumlah angkatan kerja lokal yang menganggur

3). Tujuan pengelolaan

  • Mengurangi angka pengangguran

  • Mencegah peningkatan keresahan masyarakat

4). Pengelolaan lingkungan

Perekrutan tenaga kerja bekerjasama dengan pemerintah desa dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten SukaJaya dengan mengutamakan tenaga kerja lokal yang memenuhi persyaratan.

5). Lokasi pengelolaan :

Tapak proyek dan sekitarnya

6). Periode pengelolaan :

Awal dari proses penerimaan tenaga kerja

7). Pembiayaan :

Dari pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional dan personil

8). Institusi pengelola

a). Pelaksana : pemrakarsa

b). Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. SukaJaya

c). Pelaporan : – KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

- BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Kesehatan masyarakat

  1. Dampak penting dan sumber dampak penting

    1. Dampak penting

    • Berjangkitnya berbagai jenis penyakit seperti : diare, muntaber, malaria, dan demam berdarah

    • Penurunan kualitas lingkungan

    1. Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

  1. Tolak ukur dampak penting

Peningkatan angka penderita sakit setelah proyek beroperasi

  1. Tujuan pengelolaan

Mencegah dan menanggulangi berjangkitnya berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh aktivitas pelayaran.

  1. Pengelolaan lingkungan :.

  • Penataan lingkungan dan tata guna lahan dengan baik

  • Mengendalikan pertumbuhan pemukiman disekitar proyek

  • Pembuatan saluran/drainase dengan kuallitas dan kuantitas yang cukup memadai.

  • Pembuatan Pos Pelayanan Kesehatan (Poliklinik) pada tapak proyek.

  • Menjaga sanitasi lingkungan.

  1. Lokasi pengelolaan :

Tapak proyek dan pemukiman penduduk terkena dampak.

  1. Periode pengelolaan :

Selama masa operasi berlangsung.

  1. Pembiayaan :

Berasal dari pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional dan upah personil.

  1. Institusi pengelola :

    1. Pelaksana : pemrakarsa

    2. Pengawas : Dinas kesehatan Kabupaten SukaJaya

    3. Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

: BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Perekonomian Daerah

  1. Dampak penting dan sumber dampak penting

          1. Dampak penting

Perbaikan kondisi perokonomian KabupatenSukaJaya, ditandai dengan :

    • Peningkatan pemasukan dari hasil retribusi dan pajak bagi Kabupaten SukaJaya

    • Peningkatan kegiatan ekonomi dan produktifitas masyarakat.

    • Peningklatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

          1. Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

  1. Tolak ukur dampak penting

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten SukaJaya

  1. Tujuan pengelolaan

Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten SukaJaya

  1. Cara Pengelolaan :.

Pengelolaan pelabuhan secara profesional

  1. Lokasi pengelolaan : Kawasan Pelabuhan SukaJaya

  2. Periode pengelolaan : Selama masa operasi berlangsung.

  3. Pembiayaan :

Berasal dari pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional dan upah personil.

  1. Institusi pengelola :

    1. Pelaksana : Pemrakarsa

    2. Pengawas : – Bagian perekonomian Kabupaten SukaJaya

      • Dinas Pendapatan Daerah kabupaten SukaJaya

      • Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kabupaten SukaJaya

    1. Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

: BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Keamanan Lingkungan

  1. Dampak penting dan sumber dampak penting

                1. Dampak penting

    • Peningkatan frekuensi dan intensitas tindak kejahatan / kriminalitas

                1. Sumber dampak penting

Pemanfaatandan pengoperasian fasilitas pelayaran

  1. Tolak ukur dampak penting

Frekuensi dan intensitas tindak kejahatan

  1. Tujuan pengelolaan

Mencegah peningkatan tindak kejahatan / kriminalitas baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

  1. Pengelolaan lingkungan :

Membentuk suatu pengamanan pelabuhan bekerja sama dengan kepolisian setempat.

  1. Lokasi pengelolaan : tapak proyek dan sekitarnya.

  2. Periode pengelolaan : Selama masa operasi berlangsung.

  3. Pembiayaan :

Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional pelatihan SAPAM, pembelian seragam dan perlengkapan SATPAM, dan upah personil.

  1. Institusi pengelola :

    1. Pelaksana : pemrakarsa

    2. Pengawas : Kepolisian Resort kabupaten SukaJaya

    3. Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

: BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

  1. Sistem Nilai dan Norma Sosial

  1. Dampak penting dan sumber dampak penting

    1. Dampak penting

Gangguan pada tata nilai, norma sosial, budaya dan adat – istiadat masyarakat lokal sekitar pelayaran.

    1. Sumber dampak penting

Pemanfaatan dan pengoperasian fasilitas pelayaran

  1. Tolak ukur dampak penting

Masyarakat tidak resah oleh karena munculnya kegiatan – kegiatan yang dapat merusak tata nilai, norma-norma sosial, budaya dan adat istiadat masyarakat lokal.

  1. Tujuan pengelolaan

Mengurangi distorsi tata nilai, norma, budaya dan adat istiadat masyarakat lokal.

  1. Pengelolaan lingkungan :

      • Peningkatan sarana pendidikan dan peribadatan.

      • Peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

      • Pencegahan dan pengendallian terhadap munculnya tempat-tempat hiburan dan jenis-jenis kegiatan yang melanggar norma-norma sosial, budaya dan adat istiadat masyarakat lokal.

  1. Lokasi pengelolaan : tapak proyek dan sekitarnya yang terkena dampak.

  2. Periode pengelolaan : Selama operasi pelayaran.

  3. Pembiayaan :

Berasal dari Pemrakarsa dan dimanfaatkan untuk biaya operasional dan upah personil.

  1. Institusi pengelola :

  1. Pelaksana : Pemrakarsa

  2. Pengawas : Dinas Pariwisata dan Sosial Kabupaten SukaJaya

Dinas pendidikan Nasional Kabupaten SukaJaya

Departemen Agama dan MUI Kabupaten SukaJaya

  1. Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten SukaJaya

: BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

DAFTAR PUSTAKA

Fandell, Chafid. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar Dalam Pembangunan. Jakarta: Liberty Offset

Posted by: Shinichi | J July , 2008

Doc. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 2

1.2. Tujuan Pemantauan Lingkungan Hidup 2

1.3. Kegunaan Dilaksanakan Pemantauan Lingkungan Hidup 3

1.4. Peraturan Perundang-undangan 3

1.5. Ruang Lingkup RPL 4

1.6. Identitas Pemrakarsa 5

1.7. Identitas Penyusun 5

BAB II. RUANG LINGKUP

2.1. Dampak Penting yang Ditelaah 6

2.2. Dampak penting yang dikelola 7

BAB III. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN

3.1. Prinsip Dan Mekanisme Pemantauan Lingkungan 9

3.2. Rencana Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan 10

DAFTAR PUSTAKA 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan proyek Pembangunan kawasan wisata pantai yang berada diwilayah Pelabuhan Sukajaya akan dibangun sebagai sarana pendukung untuk pengembangan wilayah pantai sebagai daerah kunjungan wisata.

lahan untuk kawasan proyek berupa tambak ikan yang sudah terkena abrasi dan sebagian tambak produktif, luas lahan adalah 25 ha disebelah barat kawasan pelabuhan Sukajaya, 15 ha disebelah timur kawasan pelabuhan untuk Jetty, kios souvenir, restoran apung, water boom, aquarium raksasa, dan pasir putih. Oleh karena itu direncanakan untuk melakukan Reklamasi Pantai untuk kawasan wisata pantai.

Guna melaksanakan Pemantauan Lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pemantauan lingkungan berupa Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) merupakan bagian Dokumen AMDAL reklamasi pantai yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh Pemrakarsa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan Pelabuhan Sukajaya sebagaimana di uraikan di atas. Pelaksanaan RPL juga diperlukan baik bagi pihak lain yang berkepentingan antara lain:

· Instansi Pemerintah sebagai perencana pelaksana dan pengawas pembangunan serta pengelola lingkungan hidup di wilayah reklamasi pantai

· Masyarakat di sekitar lokasi reklamasi pantai terutama yang akan terkena dampak penting.

· Pemerhati lingkungan termasuk LSM, pakar dan masyarakat umum lainnya

1.2. Tujuan Pemantauan Lingkungan Hidup

Maksud dan Tujuan dilaksanakan pemantauan Lingkungan hidup reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai antara lain untuk:

· Mengetahui perubahan lingkungan hidup atau dampak penting yang timbul akibat reklamasi pantai

· mengevaluasi pengelolaan lingkungan hidup yang telah dan akan dilaksanakan di kawasan wisata pantai pelabuhan Sukajaya.

· memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai pelaksanaan reklamasi pantai untuk kawasan wisata pantai kab. Sukajaya.

1.3. Kegunaan Dilaksanakan Pemantauan Lingkungan Hidup

a. Bagi Pemrakarsa

· Mengetahui hasil Pengelolaan lingkungan yang telah dan akan dilaksanakan

· Memperbaiki dan menyempurnakan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) yang telah disusun

· Sebagai Alat bukti jika terjadi komplin yang berkaitan dengan dampak kegiatan reklamasi pantai

b. Bagi Pemerintah

· Mengetahui perubahan lingkungan yang terjadi di wilayah tapak proyek dan sekitarnya. Khususnya dampak yang sebenarnya terjadi akibat kegiatan rekalamasi pantai.

· Bahan masukan pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan termasuk pengelolaan lingkungan di wilayah sekitar lokasi reklamasi pantai

c. Bagi Masyarakat

· Mengetahui perubahan lingkungan hidup yang terjadi di wilayahnya khususnya dampak kegiatan reklamasi pantai.

· Menentukan kebijakan atau keputusan peran sertanya dalam pengelolaan lingkungan hidup di wilayahnya

1.4. Peraturan Perundang-undangan

Dalam penyempurnaan Studi Amdal, beberapa peraturan-peraturan yang digunakan sebagai acuan adalah peraturan-peraturan yang diberlakukan oleh Pemerintah RI untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan diantaranya :

1. Undang –Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

2. Undang –Undang No.21 Tahun 1992 tentang Pelayaran.

3. Undang-undang RI No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup

4. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan

5. Peraturan Pemerintah RI No.70 tahun 1996 tentang kepelabuhan

6. Peraturan Pemerintah RI No.18 tahun 1999 tentang pencemaran laut

7. Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 1999 tentang angkutan perairan

8. Peratutan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah No.1 tahun 1990 tantang pengelolaan lingkungan hidup di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah

9. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-02/MENKLH/I/1998 Tentang Pedoman Penentuan Baku Mutu Lingkungan

10. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-14/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL

11. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-13/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Penyusunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL

12. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-14/MENKLH/3/1994 Tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL

13. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-39/MENLH/08/1996 Tentang Jenis Kegiatan Yang Harus Dilengkapi Dengan AMDAL

14. Keputusan Kepala BAPEDDAL No. Kep-056 Tahun 1994 Tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting

15. Keputusan Kepala BAPEDDAL No. 299/II/1996 Tentang Pedoman Teknia Kajian Aspek Sosial dalam Pemyusunan AMDAL

16. Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Tengah No. 660.I/26/1990 Tentang Baku Mutu Kualitas Air di Propinsi Jawa Tengah

17. MARPOL 73/78

1.5. Ruang Lingkup RPL

Sesuai dengan tujuan dan Kegunaan RPL, ruang lingkup rencana pemantauan Reklamasi Pantai kawasan wisata pantia kabupaten Sukajaya adalah:

1. Mengkaji seluruh dampak yang terkategori penting baik positif maupun negatif terhadap semua komponen.

2. Merumuskan langkah-lankah pemantauan yang perlu dilakukan untuk setiap komponen kegiatan dan komponen lingkungan baik yangberdampak positif maupun yang berdampak negatif.

1.6. Identitas Pemrakarsa

Nama Proyek : Reklamasi Pantai untuk kawasan wisata pantai

Pekerjaan : Penyusunan Dokumen ANDAL, RKL dan RPL

Reklamasi Pantai

Pemimpin Proyek : Ir. Adi Nugroho

Penanggung Jawab AMDAL : Dr. Pariman ST

Lokasi Proyek : Pelabuhan Sukajaya, Kabupaten Sukajaya

1.7. Identitas Penyusun

Nama : Fadhli S

Alamat : Jl Banjarsari No 58B Tembalang, Semarang

Penanggungjawab Proyek : Ir. Hadi Saputra

Ketua Tim Ahli : Dr. Herman Sudirman

Ahli Hidro-Oseanografi : Dr. Elis Sungkar

Ahli Kimia-Fisika : Dr. Andrea Hiranata

Ahli Biologi dan Kelautan : Dr. Desi Aprilia

Ahli SosEkBudKesmas : Dr. Sulisetyaningsih

BAB II

RUANG LINGKUP

2.1. Dampak Penting yang Ditelaah

2.1.1. Rencana Kegiatan yang Ditelaah

Kegiatan proyek pembangunan wisata pantai yang berada diwilayah Pelabuhan Sukajaya sesuai dengan rencana tata ruang kabupaten Sukajaya yang berada dalam wilayah pembangunan dengan peruntukan kawasan industri, pelabuhan dan sarana pendukungnya. Lokasi proyek berada sekitar 8 Km dari jalan arteri Semarang Sukajaya dan sekitar 12 Km dari Kawasan Industri PT. Marine Lestari yang berada didesa Kartikamakmur.

Lahan untuk kawasan proyek berupa tambak ikan yang sudah terkena abrasi dan sebagian tambak produktif, luas lahan adalah 25 ha disebelah barat kawasan pelabuhan Sukajaya, 15 ha disebelah timur kawasan pelabuhan untuk Jetty, kios souvenir, restoran apung, water boom, aquarium raksasa, dan pasir putih

2.1.2. Tahapan Rencana Kegiatan

Guna kepentingan studi AMDAL, semua kegiatan yang menyangkut perubahan tata guna lahan secara garis besar dapat diketegorikan dalam tiga tahap kegiatan, yaitu tahap prakontruksi, kontruksi dan pascakontruksi.

2.1.2.1. Kegiatan Tahap Pra Konstruksi

  • Survei dan perijinan
  • Sosialisasi Rencana Kegiatan
  • Pengadaan lahan

2.1.2.2. Kegiatan Tahap Konstruksi

  • Recruitmen Tenaga Kerja
  • Mobilisasi Peralatan dan Material
  • Pematang Lahan
  • Pembangunan fisik bangunan
  • Pemasangan Peralatan

2.1.2.3. Kegiatan Tahap Operasional

  • Pengoperasian wisata pantai

2.2. Dampak penting yang dikelola

2.2.1. Prakonstruksi

· Survei dan perijinan

Kegiatan ini dapat menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan pengaruh proyek terhadap produksi, ganti rugi yang tidak sesuai dan limbah yang akan ditimbulkan, kekhawatiran ini dapat berkembang menjadi persepsi negative terhadap kegiatan proyek.

  • Sosialisasi Rencana Kegiatan

Kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan oleh pemrakarsa proyek diharapkan dapat menjelaskan aktivitas proyek sehingga masyarakat desa Mugimakmur dan desa Sukasejahtera dapat mengetahui secara pasti rencana kegiatan dan dapat segera mempersiapkan diri agar turut dapat berpartisipasi dalam aktifitas proyek.

  • Pengadaan lahan

Proses pengadaan lahan diwilayah desa sukasejahtera sejumlah 25Ha dan desa mugimakmur sejumlah 15Ha akan dapat memunculkan spekulan dan kekhawatiran masyarakat tentang nilai ganti rugi tambak. Tambak yang akan diurug lebih dari 50% ternyata sudah berupa laut, karena pengaruh abrasi, sehingga para pemilik tambak yang sudah berubah menjadi laut tidak akan merasa keberatan dibeli oleh proyek.

2.2.2. Konstruksi

· Recruitmen Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses kontruksi adalah sekitar 150 orang buruh bangunan, 5 orang tenaga pelaksana dan 2 orang site manajer (sarjana). Tenaga kerja ini akan diprioritaskan dari masyarakat sekitar untuk buruh bangunan.

· Mobilisasi Peralatan dan Material

Aktifitas mobilisasi peralatan dan material tidak akan mengganggu masyarakat sekitar Karena menggunakan jalan lingkar Semarang-SukaJaya yang berupa tanah tegalan dan tambak, belum ada pemukiman. Kebutuhan tanah untuk reklamasi perlu dilakukan analisa lebih jauh untuk mengurangi dampak yang akan terjadi.

· Pematang Lahan

Kegiatan pematangan lahan (reklamasi) pantai seluas 40 ha akan merubah fungsi lahan yang berupa tambak. Peralihan fungsi lahan ini akan mempengaruhi produktifitas lahan lainnya yang berada disekitar tapak proyek.

  • Pembangunan fisik bangunan

Pembangunan fisik bangunan akan menurunkan kualitas lingkungan ynag berupa kulaitas udara, kebisingan, dan penurunan kualitas air laut. Pada akhirnya penurunan kualitas lingkungan tersebut akan berlanjut terhadap pendapatan masyarakat nelayan, penurunan produksi tambak dan penurunan kenyamanan serta persepsi negative terhadap proyek.

  • Pemasangan Peralatan

Pemasangan peralatan akan sama dampaknyadengan pembangunan fisik bangunan. namun dalam skala yang lebih rendah karen waktu pemasangannya yang relatif lebih cepat dibanding waktu pembangunan fisik lainnya.

2.2.3. Operasional

  • Pengoperasian wisata pantai

Pengoperasian wisata pantai merupakan aktifitas pendukung yang diharapkan mampu mengacu perkembnagna wilayah sekitar dan memberikan peluang pada masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata pantai.

BAB III

RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN

3.1. Prinsip Dan Mekanisme Pemantauan Lingkungan

Prinsip dasar dalam penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan adalah :

· Minimalisasi dampak negatif dan optimalisasi dampak positif dari kegiatan reklamasi pantai pelabuhan Sukajaya

· Membangun sistem informasi mengenai kinerja pengelolaan lingkungan untuk pengambilan keputusan tentang penyempurnaan cara, waktu, perioda, atau lokasi pengelolaan lingkungan, termasuk pemberian sangsi bagi pengabaikan pelaksanaannya

· Diperlukan kejelasan kewenangan, tugas, dan tanggung jawab pihak yang terkait guna mencapai sasaran pada butir pertama

Berkaitan dengan prinsip diatas, dijelaskan dengan adanya kegiatan reklamasi pantai pelabuhan Sukajaya, maka pengelolaan dampak positif dan dampak negatif yang terjadi tidak selalu menjadi tanggung jawab dan dalam kewenangan Badan Pengawas Kabupaten Sukajaya, namun perlu dilaksanakan bersama-sama dengan pihak lain yang berkepentingan seperti pengembang di Pemerintahan Kabupaten Sukajaya, institusi pada Pemerintahan Pusat, pengguna atau pengembang di Pelabuhan Sukajaya, dan masyarakat disekitar kawasan pelayaran Pelabuhan Sukajaya.

Untuk menghindari terjadinya kesenjangan tanggung jawab, maka dalam penyusunan RPL perlu dilakukan pembagian tugas yang jelas, yakni sesuai dengan kategorisasi matra dampak lingkungan yang meluputi:

· Matra Subtantif, yakni kejelasan mengenai komponen atau unsur lingkungan yang terkena atau menjadi sasaran dampak.

· Matra ruang, yakni kejelasan mengenai skala ruang kejadian dampak serta lokasi atau tempat sumber dampak

· Matra temporal, yakni kejelasan mengenai waktu kejadian dampak dalam kerangka pentahapan proyek reklamasi pantia pelabuhan Sukajaya.

Pihak yang bertanggung jawab dalam pemantauan lingkungan pada hakekatnya akan mengikuti pembagian tanggung jawab para pihak dalam pengelolaan lingkungan menurut kepentingan kewenangannya masing-masing, termasuk kepentingan pengawasan terhadap kinerja pengelolaan lingkungan.

Pemberian rencana pelaksanaan pemantauan untuk setiap komponen lingkungan yang dipantau memerlukan kejelasan atas artibut-atribut yang mencakup:

· Sumber dampak

· Dampak penting yang dipantau

· Parameter dampak/komponen lingkungan yang dipantau

· Tujuan pemantauan lingkungan

· Tolak ukur dampak

· Metoda pemantauan lingkungan

· Lokasi pemantauan lingkungan

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

· Pelaksana pemantauan lingkungan

· Pengawas pemantauan lingkungan

· Pelaporan pemantauan lingkungan

3.2. Rencana Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan

3.2.1. Tahap Prakontruksi

· Survei dan perijinan

Kegiatan survey dan perijinan meliputi pengukuran lapangan dan pengajuan ijn prinsip kegiatan proyek reklamasi pantai.

  • Sosialisasi Rencana Kegiatan

Ada sebagian kecil masyarakat yang kurang mendukung adanya rencana pembangunan proyek tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak lingkungan yang menyebabkan turunnya pendapatan masyarakat khususnya petani tambak disekitarnya.

Saran dari masyarakat apabila jadi dibangun proyek tersebut antara lain:

a) Pekerja yang digunakan oleh perusahaan pada waktu pembangunan maupun pada waktu operasii diprioritaskan dari dua desa tersebut.

b) Limbahnya betul-betul ditangani khususnya limbah cair sehingga tidak mengurangi pendapatan petani tambvak didua desa tersebut.

c) Perlu sosialisasi lebih lanjut ke dua desa.

d) Perusahaan perlu memberikan konpensasi kepada masyarakat

e) Pelu adanya kesepakatan-kesepakatan tertentu antara masyarakat dengan pihak pemrakarsa.

  • Pengadaan lahan

Proses pengadaan lahan diwilayah desa sukasejahtera sejumlah 25Ha dan desa mugimakmur sejumlah 15Ha. tambak yang akan diurug lebih dari 50% ternyata sudah berupa laut, karena pengaruh abrasi, sehingga para pemilik tambak yang sudah berubah menjadi laut tidak akan merasa keberatan dibeli oleh proyek.

3.2.2. Tahap Kontruksi

· Recruitmen Tenaga Kerja

Pada tahap ini dibutuhkan tenaga kerja sekitar 150 orang buruh bangunan, 5 orang tenaga pelaksana dan 2 orang site manajer (sarjana).

· Mobilisasi Peralatan dan Material

Mobilisasi peralatan dan material menggunakan jalan lingkar Semarang-SukaJaya yang berupa tanah tegalan dan tambak, belum ada pemukiman.

· Pematang Lahan

Kegiatan ini akan merubah fungsi lahan yang berupa tambak. peralihan fungsi lahan ini akan mempengaruhi produktifitas lahan lainnya.

· Pembangunan fisik bangunan

Pembangunan fisik bangunan akan menurunkan kualitas lingkungan ynag berupa kulaitas udara, kebisingan, dan penurunan kualitas air laut.

· Pemasangan Peralatan

Pemasangan peralatan akan sama dampaknyadengan pembangunan fisik bangunan. namun dalam skala yang lebih rendah karen waktu pemasangannya yang relatif lebih cepat dibanding waktu pembangunan fisik lainnya.

Komponen Fisika-Kimia

1). Tata ruang/Tata guna lahan

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis komponen lingkungan tata guna lahan

· Indikator : Perubahan tata guna tanah setelah kegiatan pengurugan

b). Sumber dampak yang dipantau :

· Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

c). Parameter / komponen lingkungan yang dipantau :

· Tata guna tanah

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Memeriksa kesesuaian antara penggunaan lahan dengan rencana proyek

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan

- Observasi / pengamatan lapangan pada lahan proyek yang telah diurug dan membandingkan tata guna tanah hasil pengamatan dengan tata guna tanah pada rencana proyek.

· Lokasi pematauan lingkungan

- Tapak proyek yang telah diurug

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- selama tahap konstruksi dan pascakonstruksi, sebulan sekali

f). Institusi pemantauan lingkungan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : – BPN Kabupaten Sukajaya

- Tata Kota Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Prop. Jawa Tengah

2). Hidrologi dan Kualitas air

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis komponen lingkungan : hidrologi dan kualitas air

· Indikator : penurunan kualitas air di laut sekitar tapak proyek, sebagai akibat terjadinya resuspensi sedimen pada saat pengerukan

b). Sumber dampak yang dipantau

· Kegiatan pengerukan alur pelayaran dan kolam pelabuhan

c). Parameter / komponen lingkungan yang dipantau

· pH

· DHL

· O2 terlarut (DO)

· TSD

· BOD

· Kandungan zat-zat terlarut (Fe,Cr+6,Chloride),salinitas dan kadar organik

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Memeriksa kelayakan kualitas air sebagai akibat terjadinya resuspensi sedimen oleh karena kegiatan pengerukan

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan

- Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium, menggunakan metode yang sesuai dengan parameter yang akan diamati. Hasil analisis laboratorium kemudian dibandingkan dengan mutu air untuk budidaya

· Lokasi pemantauan lingkungan

- Perairan di sekitar lokasi pengerukan

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- Selama tahap konstruksi

- Sebelum dan setelah kegiatan pengerukan dilaksanakan

f). Institusi pemantauan lingkungan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya dan Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

3). Erosi, akresi dan abrasi

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis komponen lingkungan : erosi, akresi dan abrasi

· Indikataor : pendangkalan alur

b). Sumber dampak yang dipantau

· penggerusan tebing alur, penambahan tebing alur dan pengendapan di dalam alur.

c). Parameter / komponen lingkungan yang dipantau

· kedalaman alur

· luas alur

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Memeriksa kerusakan tebing alur dan laju sedimentasi/pendangkalan alur.

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan langsung di lapangan

· Pengambilan data pengukuran sekunder dan primer

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- Selama tahap konstruksi

- Sebelum dan setelah kegiatan pengerukan dilaksanakan

f). Institusi pemantauan lingkungan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya dan Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

5). Hidrooseanografi

a). Dampak penting yang dipantau :

· Jenis komponen lingkungan : hidrooseanografi

· Indikator : Perubahan pola arus dan gelombang, pasang surut, sedimentasi dan intrusi air laut.

b). Sumber dampak yang dipantau

· Pengerukan

· Pengurugan dan pemadatan tanah urugan

c). Parameter / Komponen lingkungan yang dipantau

· Arus (arah dan kecepatan )

· Gelombang (tinggi, periode, arah, dan kecepatan)

· Pola pasang surut

· Laju sedimentasi

· Intrusi air asin

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Mengamati berbagai perubahan parameter lingkungan (arus, gelombang, pasang surut, sedimentasi dan intrusi air laut)

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan

- Observasi dengan menggunakan Current meter untuk memantau arus

- Observasi dengan menggunakan Wave recorder untuk memantau gelombang

- Pemeruman (sounding) untuk memantau perubahan kedalaman dasar laut

- Pengamatan pola pasang surut harian yang terjadi

- Pengukuran laju intrusi air asin ke lapisan tanah

· Lokasi pemantauan lingkungan

- Tapak proyek

- Alur pelayaran

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- selama tahap konstruksi

- 2 kali 1 tahun

f). Intitusi pemantauan lingkungan

· Pelaksana : Pemakarsa

· Pengawas : Dinas PU Kab Sukajaya, Dinas Perhubungan Dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Prop. Jawa Tengah

Komponen Biologi

1). Biota darat (Flora dan Fauna)

a). Dampak penting yang dipantau

· Jumlah dan jenis yang tertimbun

· Fauna yang terkena dampak

· Jumlah dan jenis tanaman penghijauan

b). Sumber dampak

· Sumber penyebab timbulnya dampak adalah kegiatan penghijauan

· Kegiatan pengurugan yang menimbun beberapa jenis tanaman (kelapa yang masih muda) dan beberapa rumah

c). Parameter lingkungan hidup yang dipantau

· Jumlah, jenis Flora dan Fauna yang hilang atau direlokasi akibat penimbunan

· Parameter lingkungan yang dipantau adalah jumlah, jenis, keanekaragaman dan sebaran vegetasi darat berupa tanaman penghijau

d). Tujuan Rencana pemantauan lingkungan hidup

· Memantau hasil pelaksanaan penanaman tanaman penghijau

· Memantau jumlah tumbuhan dan Fauna yang mengalami penimbunan

e). Metode pemantauan lingkungan hidup

· Pengumpulan data secara langsung dan data sekunder mengenai jumlah tumbuhan yang tertimbun dan jumlah Fauna yang direlokasi

· Metode pengumpulan dan analisis data Inventarisasi jumlah, jenis dan jarak tanaman-tanaman penghijau melalui pengamatan dan pencatatan langsung pada kawasan penghijauan. Analisis evaluasi keberhasilan pelaksanaan penghijauan meliputi :

- Jumlah, jenis dan jarak tanaman penghijauan

- Prosentase tingkat keberhasilan : prosentase luas lahan yang dihijaukan dan prosentase keberhasilan tumbuh tanaman penghijauan

· Lokasi pemantauan

- Pemantauan dilaksanakan pada lahan penghijauan

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Pemantauan dilakukan minimal sebanyak tiga kali selama pelaksanaan relokasi/pemindahan lokasi fauna

- Pemantauan dilakukan minimal sebanyak tiga kali selama pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan pada tahap konstruksi

f). Intitusi Pemantauan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Kebersihan dan Pertamina Kab. Sukajaya

· Pelaporan : BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah dan KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya

2). Biota Air (Plankton, Benthos)

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis parameter yang dipantau adalah plankton dan benthos

· Indikataor parameter berupa jumlah, jenis, kelimpahan dan indeks keanekaragaman plankton benthos

b). Sumber dampak

· Sumber penyebab timbulnya dampak adalah penurunan kualitas air akibat kegiatan pengeruakan dan pembangunan fasilitas pelabuhan

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Parameter yang dipantau adalah biota air khususnya populasi plankton dan benthos

d). Tujuan rencana pemantauan lingkungan

· Mengamati dan mengevaluasi perubahan keanekaragaman atau populasi plankton dan bhentos agar tetap seperti kondisi pada Rona Awal

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan sampel plankton dengan alat plankton net dan bhentos dengan dreuger dan botol sampel. Analisi sampel dilakukan di laboratorium dengan identifikasi, analisis data meliputi kelimpahan dan indeks keanekaragaman plankton dan bhentos.

· Lokasi pemantauan

- Pemantauan dilaksanakan di sekitar lokasi pengerukan kolam pelabuhan dan alur layar

- Pada lokasi perairan pantai disebelah barat dan timur pelabuhan

· Jangka waktu pemantauan

- Selama kegiatan pengerukan pada tahap konstruksi minimal tiga kali pemantauan

f). Institusi Pemantauan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya serta Dinas Perhubungan dan Telekomikasi Kab. Sukajaya

· Pelaporan : -KAPEDALDA Kab. Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Sosial Ekonomi Budaya

1). Persepsi Masyarakat

a). Dampak penting yang di pantau

· Munculnya persepsi negatif terhadap proyek akibat gangguan kesehatan

b). Sumber dampak

· Pengerukan, pengurugan dan pemadatan tanah urugan

· Mobilisasi peralatan

· Pengadaan material bangunan dan tanah urugan

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Persepsi masyarakat terhadap proyek

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi dampak proyek terhadap : persepsi negatif masyarakat

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan wawancara, analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama masa konstruksi, setiap tiga bulan sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

2). Kesempatan kerja dan Pendapatan

a). Dampak yang dipantau :

· Peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan.

b). Sumber dampak

· Perluasan dan intensitas pelayaran

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah / prosentase masyarakat yang mendapat kesempatan kerja, sebagai akibat kegiatan proyek

d). Tujuan pemantauan

· Menghitung jumlah kesempatan kerja yang didapat masyarakat

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data :

- Observasi dan wawancara, analisis deskriptif

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan :

- Setiap 3 bulan selama masa konstruksi

· Lokasi pemantauan :

- Tapak proyek dan lingkungan pemukiman disekitar tapak proyek

f). Intitusi pengawasan :

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Pekerja Umum Kabupaten Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

3). Kesehatan Masyarakat dan Pekerja

a). Dampak yang dipantau

· Gangguan kesehatan pada masyarakat di sekitar tapak proyek

· Ancaman keselamatan dan kesehatan pekerja

b). Sumber dampak

· Penggalian, pengerukan, pengurugan, dan pemadatan lahan

· Semua kegiatan konstruksi

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah kelurahan gejala sakit masyrakat di sekitar tapak proyek

· Jumlah dan intensitas kasus kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi kegiatan pengelolaan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehtan pada masyarakat sekitar

· Mengevaluasi kegiatan pengelolaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja

e). Metode pemantauan :

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Wawancara dan observasi, analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama masa konstruksi, 3 bulan sekali

f). Intitusi pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Kesehatan Kabupaten Sukajaya dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALADA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

3.2.3. Tahap Operasional

  • Pengoperasian wisata pantai

Pengoperasian wisata pantai merupakan aktifitas pendukung yang diharapkan mampu mengacu perkembnagna wilayah sekitar dan memberikan peluang pada masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata pantai. sehingga diharapkan dampak yang akan muncul adalah dampak positif.

Kegiatan wisata umum meliputi :

· Aquarium raksasa

· Water Boom

· Retoran terapung

· Kios Souvenir

· Area pasir putih

Komponen Fisika-Kimia

1). Hidrooseanografi

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis komponen lingkungan :

- hidrooseanografi

· Indikator :

- Perubahan pola arus dan gelombang

- Perubahan Pasang surut

- Perubahan pola sedimentasi

- Perubahan intrusi air asin

b). Sumber dampak yang dipantau :

· Pemanfaatan dan pengembangan fasilitas pelayaran

c). Parameter/komponen lingkungan yang dipantau

· Arus (arah dan kecepatan)

· Gelombang (tinggi, periode, arah, dan kecepatan)

· Pasang surut

· Sedimentasi

· Intrusi air asin

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Mengamati berbagai perubahan parameter lingkungan (arus, gelombang, pasang surut, sedimentasi dan intrusi air laut)

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan

- Observasi dengan menggunakan Current meter untuk memantau arus

- Observasi dengan menggunakan Wave recorder untuk memantau gelombang

- Pemeruman (sounding) untuk memantau perubahan kedalaman dasar laut

- Pengamatan pola pasang surut harian yang terjadi

- Pengukuran laju intrusi air asin ke lapisan tanah

· Lokasi pemantauan lingkungan

- Tapak proyek

- Alur pelayaran

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- selama tahap konstruksi

- 2 kali 1 tahun

f). Intitusi pemantauan lingkungan

· Pelaksana : Pemakarsa

· Pengawas : Dinas PU Kab Sukajaya, Dinas Perhubungan Dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Prop. Jawa Tengah

2). Kualitas air

a). Dampak penting yang dipantau

· Jenis komponen lingkungan :

- hidrologi dan kualitas air

· Indikator :

- Penurunan kualitas air di laut sekitar tapak proyek sebagai akibat kegiatan pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas pelabuhan

b). Sumber dampak yang dipantau

· Pemnafaatan dan pengembangan fasilitas pelayaran

· Pemeliharaan fasilitas pelayaran

c). Parameter / komponen lingkungan yang dipantau

· pH

· DHL

· O2 terlarut (DO)

· TSD

· BOD

· Kandungan zat-zat terlarut (Fe,Cr+6,Chloride),salinitas dan kadar organik

d). Tujuan pemantauan lingkungan

· Memeriksa kelayakan kualitas air sebagai akibat terjadinya resuspensi sedimen oleh karena kegiatan pengerukan

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pemantauan

- Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium, menggunakan metode yang sesuai dengan parameter yang akan diamati. Hasil analisis laboratorium kemudian dibandingkan dengan mutu air untuk budidaya

· Lokasi pemantauan lingkungan

- Perairan di sekitar lokasi pengerukan

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan

- Selama tahap konstruksi

- Sebelum dan setelah kegiatan pengerukan dilaksanakan

f). Institusi pemantauan lingkungan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Sukajaya dan Kantor Perikanan dan Kelautan Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Biologi

1). Biota Darat

a). Dampak penting yang dipantau

· Hasil relokasi fauna

· Jenis komponen lingkungan berupa tanaman penghijauan setelah dilakukan perawatan

· Indikator berupa jenis ; jumlah dan sebaran tanaman yang tumbuh dengan baik, frekuensi pelaksanaan perawatan dan tingkat keberhasilan

b). Sumber dampak

· Perawatan fauna hasil relokasi

· Sumber penyebab timbulnya dampak adalah kegiatan perawatan tanaman penghijauan

c). Parameter lingkungan yang dipantau meliputi

· Pemeliharaan fauna hasil relokasi

· Presentase tanaman yang hidup dan tumbuh baik

· Frekuensi pemeliharaan (penyiraman, pemupukan, penyiangan)

d). Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup

· Mengevaluasi keberhasilan kegiatan perawatan atau pemeliharaan tanaman penghijauan serta fauna hasil relokasi

e). Metode pemantauan lingkungan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Pendataan fauna relokasi dan perkembangannya

- Inventarisasi tanaman penghijauan melalui pengamatan dan pencatatan langsung pada lokasi penghijauan, inventarisasi data pelaksanaan pemeliharaan tanaman penghijauan pada lokasi penghijauan dan bagian yang bertanggung jawab pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan tanaman. Analisis data meliputi prosentase keberhasilan pertumbuhan tanaman penghijauan yang baik. Evaluasi pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan tanaman penghijauan.

· Lokasi pemantauan

- Kawasan relokasi fauna

- Kawasan lahan penghijauan dan taman

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Pemantauan dilaksanakan selama periode pasca konstruksi/ operasi, dengan frekuensi 3 kali dalam setahun pada awal musim hujan, akhir musim penghujan dan pertengahan awal musim kemarau.

f). Institusi pemantau

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas :Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

2). Biota air

a). Dampak penting yang dipantau

· Jumlah dan jenis, kelimpahan dan indeks keanekaragaman plankton dan benthos

b). Sumber dampak

· Sumber penyebab timbulnya dampak adalah Kegiatan pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas pelayaran

c). Parameter lingkungan hidup yang dipantau

· Parameter lingkungan yang dipantau adalah populasi plankton dan benthos di perairan pelayaran dan sekitarnya

d). Tujuan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup

· Memantau perubahan populasi plankton dan benthos setelah beroperasi pelayaran

e). Metode Pemantauan Lingkungan Hidup

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Pengambilan sampel plankton dengan plankton net, sampel benthos dengan dreger dan pengawetan sampel dalam botol sampel dengan formalin. Analisis sampel plankton dan benthos di laboratorium untuk identifikasi dan penghitungan jumlah individu dan jenis

- Analisis data meliputi kelimpahan, dominasi dan indeks keanekaragaman plankton dan benthos

· Lokasi pemantauan

- Pemantauan dilaksanakan pada perairan pelayaran

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Pemantauan dilaksanakan selama pascakonstruksi/operasi pelayaran, setiap 3 bulan sekali

f). Instansi pemantau

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Kantor Perikana dan Kelautan Kab. Sukajaya dan Dinas PU Pengairan Kab. Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kab. Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

Komponen Sosial Ekonomi Budaya

1). Ketenagakerjaan

a). Dampak yang dipantau

· Peningkatan kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar

· Menurunnya angka pengangguran

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek

· Jumlah penduduk lokal yang mengembangkan usaha

· Jumlah angkatan kerja lokal yang menganggur

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi kegiatan pengelolaan terkait dengan kegiatan rekrutment tenaga kerja

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan data sekunder pelayaran dan kecamatan

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama tahap operasi, setahun sekali

f). Institusi Pemantau

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

2). Mata Pencaharian

a). Dampak yang dipantau

· Peningkatan kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar

· Menurunnya angka pengangguran

b). Sumber dampak

· Pengoperasian Pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah dan jenis kesempatan kerja baru yang tercipta

d). Tujuan pemantauan :

· Mengetahui angka pengangguaran

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan anasisi data

- Wawancara dan data sekunder dari pelayaran dan kecamatan

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan : Tapak proyek dan desa sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama proses operasi, setahun sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kab. Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

3). Pendapatan Keluarga

a). Dampak yang dipantau

· Pendapatan keluarga masyrakat sekitar pelayaran

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah pendapatan keluarga

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi dampak kegiatan pelabuhan terhadap pelayaran masyarakat sekitar pelayaran.

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan wawancara

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan desa sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama pelabuhan beroperasi, setahun sekali

f). Institusi Pemantauan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Bagian Perekonomian Kabupaten Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

4). Mobilitas Penduduk

a). Dampak yang dipantau

· Meningkatnya aktifitas dan mobilitas penduduk

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Produktifitas dan mobilitas penduduk

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi kegiatan pengelolaan lingkungan berkaitan dengan mobilitas penduduk

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Wawancara dan data sekunder desa/kecamatan

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan : Wilayah pedesaan sekitar pelabuhan

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama proyek beroperasi, setahun sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Pemerintah Desa Mugimakmur dan desa Sukasejahtera

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

5). Kecemburuan sosial

a). Dampak yang dipantau

· Kecemburuan sosial yang timbul sebagai kecewa akibat tidak terekrut sebagai karyawan / pegawai pelayaran

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Frekuensi dan Intensitas kecemburuan sosial

d). Tujuan pemantauan

· Mencegah terjadinya kecemburuan sosial

e). Metode pemantauan :

· Metode pengumpulan dan analisis data :

- Wawancara dan Observasi

- Analisis deskritif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan desa sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan :

- Selama tahap operasi, setahun sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksanaan : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sukajaya

· Pelapor : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

6). Kesehatan masyarakat

a). Dampak penting yang dipantau

· Berjangkitnya berbagai jenis penyakit seperti : diare, muntaber, malaria, dan demam berdarah

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Angka penderita sakit setelah pelayaran dan fasilitas penunjang beropersi

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi dampak aktivitas pelayaran terhadap kesehatan masyarakat

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan sampling (pemeriksaan kesehatan masyarakat)

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan pemukiman penduduk yang terkena dampak

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama pelayaran beroperasi berlangsung, setahun sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Kesehatan Kab Sukajaya, Dinas Tata Kota Kab. Sukajaya dan Dinas PU Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

7). Perekonomian Daerah

a). Dampak penting yang dipantau

· Pendapatan dari hasil retribusi dan pajak bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sukajaya

· Kegiatan ekonomi dan produktifitas masyarakat

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sukajaya

d). Tujuan pemantauan

· Mengetahui dampak positif/negatif pengoperasian Pelayaran terhadap perekonomian daerah Kabupaten Sukajaya.

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan wawancara

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- wilayah Kabupaten Sukajaya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama pelaksanaan operasi, setahun sekali

f). Institusi Pemantauan :

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Bagian Perekonomian Kabupaten Sukajaya dan Dinas Pendapatan Daerah Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

8). Keamanan Lingkungan

a). Dampak yang dipantau

· Peningkatan frekuensi dan intensitas tindak kejahatan / kriminalitas

· Peningkatan keresahan masyarakat

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelayaran dan fasilitas penunjang

· Pemeliharaan fasilitas pelayaran

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Frekuensi dan intensitas tindak kejahatan

· Frekuensi dan intensitas keresahan masyarakat

d). Tujuan pemantauan

· Mencegah peningkatan tindak kejahatan / kriminalitas

· Mencegah peningkatan keresahan masyarakat

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan wawancara

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan daerah sekitarnya

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama proyek beroperasi, 6 bulan sekali

f). Institusi Pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Kepolisian Resort Kabupaten Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

9). Sistem Nilai dan Norma Sosial

a). Dampak yang dipantau

· Gangguan pada tata nilai, norma sosial, budaya, dan adat-istiadat masyarakat lokal di sekitar pelabuhan

b). Sumber dampak

· Pengoperasian pelabuhan dan fasilitas penunjang

c). Parameter lingkungan yang dipantau

· Jumlah dan jenis kegiatan yang bertentangan dengan norma sosial dan agama yang dianut masyarakat sekitar

d). Tujuan pemantauan

· Mengevaluasi kegiatan pengelolaan untuk mencegah distorsi tata nilai, norma, budaya dan adat-istiadat masyarakat lokal

e). Metode pemantauan

· Metode pengumpulan dan analisis data

- Observasi dan wawancara

- Analisis deskriptif

· Lokasi pemantauan

- Tapak proyek dan daerah sekitarnya yang terkena dampak

· Jangka waktu dan frekuensi pemantauan

- Selama operasipelayaran , setahun sekali

f). Institusi pemantauan

· Pelaksana : Pemrakarsa

· Pengawas : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab.Sukajaya, Dinas Sosial Kab.Sukajaya, Dinas Pendidikan Kab. Sukajaya dan Departemen Agama dan MUI Kab. Sukajaya

· Pelaporan : KAPEDALDA Kabupaten Sukajaya dan BAPPEDAL Propinsi Jawa Tengah

DAFTAR PUSTAKA

Fandell, Chafid. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar Dalam Pembangunan. Jakarta: Liberty Offset

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.